Bertahun-tahun aku berdoa pada Tuhan agar dia bisa pulang.
Lelakiku, kekasih hatiku tersayang. Di antara manik-manik Rosario di tangan, aku berbisik pada Bunda Maria, agar menyampaikan rinduku padanya.
Papanda tercinta, empat purnama lamanya kita berpisah. Ah, aku ingat saat kamu mengenakan seragam dinas, memanggul ransel hijau berisi peralatan. Posturmu yang tinggi besar. Begitu gagah, begitu menawan.
Sayangku, cintaku padamu bertumbuh tiap hari bagai bunga di musim semi.
Ya, aku mencintaimu seperti seorang anak. Murni, berserah pasrah. Sepenuhnya menggantungkan diriku pada sosokmu yang kokoh.
Boneka Pandaku yang besar dan hangat. Pelindung keluarga. Papandaku, ayah dari dua anakku tercinta harus pergi demi tugas negara. Aku tidak menyesal menikah dengan seorang tentara, meski tiap kau melangkah keluar, aku selalu khawatir tentang keselamatanmu.
"Aku pergi dulu," ujarmu empat tahun yang lalu. Kedua anak kita kau gendong sekaligus di kiri-kanan, disertai ciuman bertubi-tubi. Kau bagaikan pohon ek yang kokoh, dengan dahan-dahan besar tempat anak-anak bergantung.
"Berapa lama kamu di Kalimantan?" tanyaku separuh cemas.
Kau hanya mengerdip dan tersenyum.
"Aku pasti pulang, sayang. Jangan khawatir."
Rosario bergulir di tanganku tanpa henti sejak kau pergi. Setiap hari, setiap malam. Si Bungsu sering terbangun dan menanyakan Papanda. Kau tahu betapa anak itu begitu lekat denganmu.
Hari ini, doaku terkabul. Telpon berdering, mengabari bahwa kau akan kembali ke Jakarta. Aku mengabari anak-anak, dan mereka gembira. Papanda akan pulang, Papanda akan kembali.
Kami bertiga menunggu di sebuah ruang dengan pintu kaca. Menanti dengan rindu bahwa sosokmu akan melangkah masuk dan merentangkan tangan untuk memeluk. Kami rindu, kami menanti dengan tak sabar. Menit yang berlalu bagai siksaan bagiku.
Nyaris tengah malam, anak-anak sudah mulai mengantuk. Dua laki-laki berseragam hijau melangkah masuk, membuka pintu kaca lebar-lebar. Sebuah kotak kayu didorong masuk di atas roda oleh empat laki-laki berbaju putih. Rahangku kaku, lidahku kelu. Kotak ditempatkan di tengah ruang. Lalu, mereka menyalamiku dengan wajah dingin.
Di sana, di dalam kotak kayu, kau terbaring diam. Wajahmu tampak damai. Wafat dalam tugas negara. Bapak seorang patriot sejati, begitu yang dibisikkan ajudanmu tadi.
Papandaku sayang, aku berbisik. Akhirnya kau kembali.
Aku menggandeng kedua anak kita, menuntun mereka ke tepi peti.
"Papanda sudah pulang, Nak..." ucapku. Airmata mengalir di pipi, namun senyumku tetap terlukis. "Papanda akhirnya pulang."
***
Writer's note :
Dear Om Trisno, ponakanmu membuka Facebook-mu kemarin. Ternyata aku sedemikian kangen padamu.

Nice Indri....
BalasHapusThanks :)
HapusTerharu aku Ndri...is this true story?
BalasHapusInspired by a true story... hehehe. Trims ya sudah baca.
Hapus