Dear Papa

"Pap..."

"Hmm?" 

"Aku mau ngomong sebentar, Pap. Tolong korannya berhenti dulu."

Nada suara anaknya agak berbeda. Martin mengernyit.

"Tumben." Ia berusaha tersenyum. "Nggak biasanya jam segini sudah pulang."

Sinta menghela napas. "Aku nggak bakalan buru-buru balik kalau Papi nggak ngusir Bik Sum! Ya ampun, Pap! Apa lagi kali ini?!"

"Ngusir?? Siapa yang ngusir?"

"Itu Bik Sum telpon aku, katanya Papi nuduh dia curi arloji Papi."

"Arloji?" Martin terdiam. "O, ya. Arlojiku memang hilang. Ya, pasti dia yang ambil! Kan di rumah ini cuma ada dia? Masa hilang sendiri?"

"Bik Sum ikut kita sejak aku SD, Pap. Mana mungkin dia nyolong?" Sinta menarik kursi dan duduk. "Udah coba di cari?"

"Nggak ada!"

"Cari di mana? Di kamar sudah?"

"Sudah."

"Sebelah televisi? Atau di kamar mandi?"

"Kamu kok judes sama orang tua??"

"Coba cari di kamar mandi, deh! Di lemari belakang kaca." Santi mengangkat tangan, ketika Papi hendak mendebat. "Di sebelah sisi kiri ada panel yang lepas tuh. Biasanya Papi suka ngumpetin barang di sana."

"Kamu..." Martin mengernyit. "Dari mana tahu kalo Papi punya simpenan di sana?"

"Pap, aku sudah tiga puluh lima. Tinggal di rumah ini dari lahir! Ya aku tahu dong."

Martin menggerutu, kemudian bangkit berdiri, menuju kamar mandi.

Sinta melepas jasnya, mencantolkan ke sandaran kursi. Jujur, ia lelah. Kerjaan di kantor sedang kritis. Sebagai Head Marketing, dirinya sangat sibuk dengan meeting dan ketemu klien. Ini sudah ke sembilan kali ia terbirit-birit menyudahi rapat, dan menyetir pulang dengan kecepatan tinggi.

Ia sayang Papi... sungguh sayang. Hanya saja akhir-akhir ini Papi sangat menyebalkan.

Sinta menungkupkan telapak tangan ke muka, menyabarkan diri. Berusaha mengingat-ingat saat dulu dia kecil : ketika ia belajar naik sepeda, Papi yang sibuk menuntun dan menemaninya. Ketika ia jatuh dari pohon dan kepalanya bocor, Papi yang memeluknya dan menemani ke Rumah sakit. Ketika ia juara kelas, Papi yang paling bangga dan menceritakannya ke semua orang.

Dan ketika ia putus dengan Bayu, pundak Papi adalah tempatnya bersandar. Bermalam-malam, berminggu-minggu, berbulan-bulan tanpa berhenti Papi ada untuknya, menghiburnya. 

Sinta, anak Papi satu-satunya, kata Papi. Sinta kesayangan Papi. Sinta nggak boleh runtuh cuma karena hal kecil!

"Ketemu, nggak Pi?" 

Martin kembali sambil menggelengkan kepala. Sebelah tangan memegang arloji. 

"Tuh, kan. Ketemu, toh?" 

Sekejap, raut Martin terdiam. Seolah merenung. 

Sedetik.... dua detik. 

Lalu perlahan, ia mengangkat kepala. Rautnya bingung.

"Apa yang ketemu, ya?"

"Itu..." Sinta menunjuk. "Arlojinya ketemu, kan?"

"Oh, tadi Papi cuci tangan, jadi dibuka dan ditaruh di kamar mandi."

Santi terdiam. Tangannya spontan meraih tangan Papi, menggenggamnya perlahan.

"Besok aku pulang cepat, ya. Kita ke dokter Harsono."

"Ya, boleh aja. Kamu emangnya sakit?" Martin melongok ke arah dapur. "Si Sum mana, ya? Papi tadi minta dibikinin kopi kok lama amat?" 

"Bik Sum tadi ke--"

"Sum!! Sumiati!! Kopi saya mana??"

"Pap..." ujar Santi sambil beranjak berdiri "Nanti aku yg bikinin. Papi duduk aja dulu."

"Kamu kok nggak bilang kalau mau pulang?" Martin menebar senyum. "Tiket Singapura mahal, loh. Bukannya kemarin bilangnya ada ujian."

Santi menunduk. Menahan panas di wajahnya. Meski bukan pertama kali Papi seperti ini, ia masih saja merasa sedih. 

"Aku nggak ujian, Pap." Senyumnya merekah. "Aku sudah lulus kuliah dua belas tahun yang lalu."

"O, cepat sekali ya. Perasaan baru kemarin diantar ke asrama. Ah..." Martin mengambil koran kembali, menekuri baris-baris berita di sana. "Eh, tadi Papi marah sama Sum. Masa arloji Papi hilang."

Santi menarik tangan Papi. Tanpa bicara, ia menunjuk pergelangan tangan sebelah kiri.

"Oh, di situ ya." Martin tertawa. "Ya ampun. Maklum Papi sudah tua. Haha..."

Santi berusaha tertawa, meski matanya sendu. Ia melingkarkan lengannya ke bahu Papi, memberikan pelukan. 

"Don't worry, Pap. Aku nggak akan pergi seperti Mama." ucapnya sambil mengecup pipi Martin.

I love you since I was born, Pap.... And I will love you until you die. ****


Komentar