Jika Saya Ikut STAND UP COMEDY :)

Seperti biasa jika banyak pikiran, insomnia saya kambuh. Kemarin saya terjaga sampai pukul empat pagi. Dari mulai meneruskan naskah, sampai browsing-browsing nggak jelas. Pemberhentian terakhir adalah buka YOUTUBE, lalu menikmati celoteh Raditya Dhika, Pandji, dan Ishman HS di STAND UP COMEDY.

Dan seperti biasa, imajinasi saya melanglang buana ke mana-mana...

Andaikan ada sebuah forum para penulis--anggaplah buat amal--kemudian semua penulis itu maju satu per satu dan harus STAND UP depan semua orang. Jadinya kayak apa ya??

Mungkin transkrip saya akan berbunyi seperti ini :

Halo semuanya. Nama saya Mikayla Fernanda. Saya seorang penulis.
Jujur, saya terbebani banget naik ke sini. Soalnya nggak semua penulis itu lucu lho! Kalau Raditya Dhika atau Isman HS, mereka penulis komedi. Nyengir aja lucu. Kalo saya? Saya penulis suspense!

Bayangkan skenario ini *ambil microphone *muka ditekuk*

"Dan dengan belati di tangan, ia mengendap-endap..."
*background music twilight zone, lampu redup remang-remang.
Tuh kan... langsung tegang semua kan? Pasti semua berpikir, "mati ni orang... mati ni orang.. mati ni orang... deg deg deg..."
Ya iya laaah. Nggak mungkin ambil belati lalu dipake kitik-kitik?

Ada yang hobi nulis juga di sini? Saran saya, jangan jadi penulis suspense.
Dari semua jenis penulisan, nulis suspense itu paling susah dan paling stress.

Kenapa? Penulis itu harus menghayati yang ia tulis. Nggak mungkin tulisan itu menyentuh kalau menulis nggak pake hati. Nulis adegan cinta? Penulisnya harus in love juga... harus berbunga-bunga juga. Nulis adegan mellow? Penulisnya harus mellow juga, sampai nangis-nangis juga.

Sekarang kalau nulis adegan pembunuhan??
*terdiam *pasang muka sadis

Masa penulisnya harus sadis juga??

Suseh boook. apalagi kita di rumah & punya anak. Bayangkan begini.

*muka serius *gaya Sherlock Holmes

Malam itu berbeda dengan malam sebelumnya. Hujan begitu deras merajam titisan atap, diiringi dengan hallintar yang menggelegar. Rasya berdiri menentang ketinggian, menatap deretan mobil yang lalu lalang di depannya, membayangkan rasanya jika tubuh fana ini meluncur dari ketinggian lantai empat puluh, menghantam pepohonan di tepi jalan, dan...

"Mami, aku gambar rumah loooh..." *pake suara anak-anak

Langsung nggak jadi tegang. "Iya, sayang. Uwaaaah, bagus deh gambarnya."

*uhuk* Lanjutkan menulis...

Ini adalah hari terakhirnya. Tidak ada pilihan lain. Dia mendekati dinding pembatas, menyentuh bulatan air hujan yang mendarat di sana. Lalu mulai memanjat...

"Mamiiiii... ikanku matiiii... huhuhuhuuu..." *pake suara anak kecil lagi

"Ya ampun, sayang. Sini, sini... peluk..." 

Dan menulisnya buyar sudah!!

See? susah kan?? Makanya dengan rela hati saya insomnia. Harus tunggu anak tidur dulu, setidaknya jam sebelas atau dua belasan baru bisa mulai.

Kenapa jam segitu? Anak-anak jam 10 sudah teler semua sih. Tapi bapaknya belooom!!!

*mulai menulis lagi*
Direntangkan tangannya menghadap langit, sambil menjejakkan kaki...

"Yaaaaang, kamu udah beli deodoranku beloooom?"

Mulai merengut. banting laptop. "Ada di lemari!! Ambil sendiriiii!!!"

"Ambilin dooong. Aku di kamar mandi niiih. Sekalian ambilin handuk jugaaaa..."
*jedotin pala ke tembok ala Jim Carrey...

Daaaan... begitulah akhirnya saya tertidur di pukul empat pagi, sambil terkikik-kikik sendiri. Peace ya! :-)

Komentar