THE LOWEST POINT IN MY LIFE

Ini adalah titik ternadir dari hidup saya, ujar seorang sahabat. Saya cuma menunggu saat-saat hilang dari edisi kewarasan.

Kalimat itu muncul 'cuma' karena ia keluar dari pekerjaan dan menganggur. Sedangkan tahun depan, ia akan menikah. Keluarganya dan keluarga besan sudah ribut mengenai status penganggurannya.

Teman-teman semua, apakah batas kewarasan dan kegilaan ditentuakan dari status pekerjaan anda? Siapa sih diri anda sebenarnya? Kenapa seakan sebuah habit di Indonesia ketika ditanya identitas anda, semua pasti menjawab dengan : Saya dokter, saya bankir, saya penulis, saya pelukis dan sebagainya?

Lihat saja di biodata tiap blog. Saya pun mencantumkan dengan gamblang kalau saya adalah seorang ghost(writer). Status yang membingungkan. Tidak salah kalau saya mencantumkan : Saya ibu dua anak, pencinta binatang, punya kolam ikan dan lain-lain. Namun itu tidak terdengar lumrah di jaman sekarang. Ketika pekerjaan menjadi sebuah identitas dan menjadi diri anda, semua orang di nilai dari titel pekerjaan. Pekerjaan menjadi value anda. Kehilangan pekerjaan membuat anda menjadi tidak valuable.

Sadis bukan?

Karena dari itu, berhentilah mengidentikkan diri dengan status pekerjaan. kehilangan pekerjaan atau kesulitan di kantor bukan akhir dunia. Tidak sepantasnya jika anda menganggur, lalu frustasi sampai bunuh diri.

***

Ditulis untuk seorang sobat karib yang baru saja kehilangan pekerjaan. You shall be ok, dude! :-)

Komentar