MERAH


Warnanya merah, seperti apel ranum. Merah, warna mobil yang kukendarai tadi pagi. Merah, warna kesukaan Ricky suamiku. Merah gincu yang kupakai juga warna noda di bajuku.

Jingga... Merah...

Itu hal terakhir yang kulihat. Lelehan sungai merah dari pelipisku, seiring tinjunya melayang di sana. Segaris cahaya merah terang yang menembus sela-sela pelupuk mata yang mulai menutup.

Aku menyerah. Aku tidak mau bertahan lagi. Jika ini adalah akhir, biarlah berlalu dengan cepat.

***

Sebelum kamu menyebutku bodoh atau melabelku bego, kumohon, berhentilah sejenak dan dengarkan kisahku.

Mereka bilang cuma orang dungu yang mau terjebak dalam kekerasan rumah tangga. Mungkin itu benar, tapi rasanya aku tidak begitu tolol.  Nasibku tidak seberuntung kalian, yang mampu mengecap pendidikan tinggi. Ibu cuma penjual gado-gado di pasar dan aku pasrah ketika sekolahku terhenti di bangku SMP.

Aku ingat sinar cerah di wajah Ibu, ketika Ricky melamarku. Bayangkan! Seorang pria berbaju necis melunasi hutang-hutang Ibu demi menggenggam tanganku di pelaminan. Aku masih hijau dan belum mengenal cinta. Tapi bakti pada ibu mengharuskan aku menikahi laki-laki itu... Pria yang baru kutemui dua kali. Sekali waktu ia melamarku, lalu kedua di pernikahan kami.

Awal kehidupan rumah tangga diwarnai derai tawa. Rasanya berjuta pelangi hinggap di paru-paru. Sejuk. Menggairahkan.

Dia bilang aku cantik. Tangannya merengkuh lembut seolah aku adalah gelembung sabun yang mudah pecah, namun bahunya kokoh untukku bersandar. Dia memperlakukan aku seperti peri mungil yang butuh perlindungan. Di tengah cumbuan mesra, dia berjanji akan selalu ada untukku. Diselimutinya aku dengan kasih, dari ujung kepala hinga telapak kaki. Diberinya aku cinta, yang membuat duniaku menjadi penuh warna.

Hingga pelangi lenyap di bulan kedua pernikahan kami, ketika ia menamparku. Hanya karena aku tersenyum ramah pada tetangga depan rumah.

Cemburu buta? Sudah jelas.

Apakah cinta membutakan, hingga aku membiarkannya menjerumuskan aku dalam jurang keposesifan?

Seminggu yang lalu, ia mencekikku, hanya karena masakanku terlalu asin. Aku sudah meminta maaf. Maksudku, tolonglah... Kasihani aku sedikit.Badanku lelah. Tidak mudah memasak sambil hamil besar. Tapi ia tak mau tahu. Dipukulnya perutku sambil mengucap kata-kata keji. Aku diseret seperti binatang, hingga akhirnya aku tak tahan lagi.

Kurenggut tangan yang mencengkeram rambutku dan kubalas makiannya.

"Jika kau tidak puas, silahkan cari pembantu!" pekikku sambil menangis. "Aku istrimu. Bukan babu!" Kulihat ia terperangah. Ini pertama kalinya aku berani melawan. "Aku nggak sanggup lagi, Mas. Lebih baik aku balik ke rumah Ibu."

"Jangan ngawur kamu!" ucapnya dengan nada sinis. "Mau makan apa kamu kalau tidak ada aku?"

"Lebih baik makan batu daripada harus di sini bersama, Mas." Aku mengangkat daguku dan menatapnya nanar. Nekad. Kubalikkan badan dengan cepat dan masuk ke kamar, mengunci pintu tanpa menghiraukan gedoran dan sumpah serapah di baliknya.

Hingga akhirnya semua terhenti. Suasana hening. Aku memberanikan keluar dengan koper di tangan, meluncur cepat ke arah gerbang. Tekadku bulat. Aku harus pergi dari rumah ini.

Sayang, langkah ibu hamil tidak sebanding dengan langkah laki-laki. Sebuah tangan kokoh mencengkeram pundakku dan menghempaskan aku ke lantai.

"Kau pikir bisa lari, eh?"

Aku mendesis ketakutan. Meminta ampun tidak ada gunanya sekarang. Kupejamkan mataku pasrah. pukulan demi pukulan, kiri-kanan kuterima tanpa melawan. Hingga akhirnya kedua lengan kokoh itu menarikku bangkit, menghempaskan punggungku ke arah tembok.

Mataku dan matanya bertemu. Aku terkejut. Bukan sorot murka yang kutemui di wajahnya, melainkan kedukaan yang sangat.

"Aku... mencintaimu, Yun." Ia berucap di sela isak. Tak dapat menghindar, aku ikut menangis bersamanya. "Aku sangat-sangat mencintaimu!"

"A-aku juga..." desisku perlahan, nyaris seperti bisikan.

"Lalu kenapa kamu mau meninggalkanku?? Jawab!!"

Dihempaskannya kembali aku ke lantai. Aku terkapar tanpa daya ketika ia meraih kerah bajuku, menariknya seraya melayangkan tinju berulang-ulang ke sana.

"Me-nga-pa..." Dia terisak-isak. "... Kamu mau pergi??"

Tak ada yang bisa kulakukan selain diam. Aku teronggok di lantai seperti boneka kain. terluka lahir batin. Tenagaku habis sudah. Darah mengalir dari pelipisku, memberi nuansa merah pada kemeja yang kupakai. Semburat senja memantul dari jendela, menyinari wajahku yang sembab.

Entah kenapa aku merasa damai. Senyuman terlukis di wajahku seraya kuterbaring menatap langit-langit. Inilah akhirnya dan aku pasrah. Di tengah pukulan yang menghujam, aku memejamkan mata. Kali ini, semoga untuk selamanya.

***

Ditulis untuk Writing Session tanggal 21 Mei 2011 dalam waktu 1 jam.
Meraih Best of the night.

Komentar

Posting Komentar