Dua hari yang lalu anak saya yang berusia dua tahun kehilangan salah satu sahabat karibnya. Namanya Loli, seekor ikan Koi.
Meski cuma seekor ikan (di antara sekerumunan ikan di kolam), anak saya meratap. Dengan wajah penuh duka, ia membungkus jasad ikan itu dengan sehelai tisu, kemudian dibalut dengan helai-helai daun. Kemudian layaknya pemakaman, kami menggali lubang di kebun, meletakkan ikan itu di sana dan menaburkan bunga. Putri saya bahkan mengucapkan doa perpisahan seraya kami menutup "kuburan" ikan itu dengan tanah.
Sebuah kehilangan di mata anak-anak, meski cuma seekor ikan seukuran jari telunjuk, membuat sebuah renungan terhadap hidup. Ikan itu tidak berjasa apa-apa pada putri saya. Ikan itu cuma berenang, meliuk-liuk riang tiap anak saya memberinya makan tiap pagi. Tidak ada sesuatu yang istimewa dari ikan itu dibanding ikan-ikan lainnya.
Namun kenapa anak saya begitu berduka? Bukankah banyak ikan lainnya? Dengan mudah saya bisa pergi ke toko ikan, dan membeli sepuluh ikan jenis yang sama dengan harga dua puluh ribu perak.
Tidak. Ikan itu tidak bisa digantikan. Ikan itu spesial. Ikan itu berharga di mata anak saya.
Andai kematian itu hinggap di diri kita, akankah ada yang berduka segitu hebatnya? Tentu. Karena setiap dari kita merupakan sosok berharga di mata orang lain. Meskipun kita tidak spesial, tidak brilian, tidak sehebat yang lain, tetap ada sesuatu di diri masing-masing orang yang unik dan valuable di mata orang lain.
Tidak ada seorangpun di dunia yang super perfect, tanpa cela/cacad. Juga sebaliknya, tidak ada seorangpun yang super cacad, tanpa kelebihan. Tuhan menciptakan masing-masing dari kita spesial, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Berbahagialah kita karena kita dicintai!
Salam dari dunia Utopia
@MikaylaFernanda
Meski cuma seekor ikan (di antara sekerumunan ikan di kolam), anak saya meratap. Dengan wajah penuh duka, ia membungkus jasad ikan itu dengan sehelai tisu, kemudian dibalut dengan helai-helai daun. Kemudian layaknya pemakaman, kami menggali lubang di kebun, meletakkan ikan itu di sana dan menaburkan bunga. Putri saya bahkan mengucapkan doa perpisahan seraya kami menutup "kuburan" ikan itu dengan tanah.
Sebuah kehilangan di mata anak-anak, meski cuma seekor ikan seukuran jari telunjuk, membuat sebuah renungan terhadap hidup. Ikan itu tidak berjasa apa-apa pada putri saya. Ikan itu cuma berenang, meliuk-liuk riang tiap anak saya memberinya makan tiap pagi. Tidak ada sesuatu yang istimewa dari ikan itu dibanding ikan-ikan lainnya.
Namun kenapa anak saya begitu berduka? Bukankah banyak ikan lainnya? Dengan mudah saya bisa pergi ke toko ikan, dan membeli sepuluh ikan jenis yang sama dengan harga dua puluh ribu perak.
Tidak. Ikan itu tidak bisa digantikan. Ikan itu spesial. Ikan itu berharga di mata anak saya.
Andai kematian itu hinggap di diri kita, akankah ada yang berduka segitu hebatnya? Tentu. Karena setiap dari kita merupakan sosok berharga di mata orang lain. Meskipun kita tidak spesial, tidak brilian, tidak sehebat yang lain, tetap ada sesuatu di diri masing-masing orang yang unik dan valuable di mata orang lain.
Tidak ada seorangpun di dunia yang super perfect, tanpa cela/cacad. Juga sebaliknya, tidak ada seorangpun yang super cacad, tanpa kelebihan. Tuhan menciptakan masing-masing dari kita spesial, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Berbahagialah kita karena kita dicintai!
Salam dari dunia Utopia
@MikaylaFernanda

Komentar
Posting Komentar