Salah satu artikel yang pernah saya tulis untuk website Neurobion, juga artikel favorite saya.
Silahkan di klik linknya TEAMWORK
Kedua : Bagilah tugas.
Ketiga : Hilangkan individualisme.
Keempat : Motivasi.
Silahkan di klik linknya TEAMWORK
Bayangkan jika Ronaldo, Messi dan David Beckham dicemplungkan di lapangan bola beserta delapan orang pemain lain. Apakah mereka otomatis bisa bertanding dan menang? Jawabannya, tidak. Sebuah tim hanya bisa bertarung jika mereka bekerjasama. Sehebat apapun para personelnya, jika mereka tidak mampu berkomunikasi dan bekerja sama, mereka tidak akan mencapai tujuan.
Mari kita gali lebih lanjut tentang grup sepakbola ini. Bayangkan kesebelas orang sudah berkomunikasi, berdiskusi, menentukan tugas dan kapasitas masing-masing. Namun ketika mereka hendak bergerak, gawangnya mendadak hilang. Apa yang akan terjadi? Tentu mereka akan berhenti berlari, lalu duduk-duduk di lapangan dengan secangkir kopi di tangan.
Analogi di atas merupakan analogi teamwork sehari-hari di dunia kerja. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kerjasama dalam tim. Mari kita gali satu persatu.
Pertama : Tentukan tujuan dan berkompetisilah.
Sebuah tim tidak bisa perform jika tidak ada tujuan yang pasti. Dalam analogi sepakbola, ini dilambangkan dengan gawang. Tujuan sebuah tim bisa merupakan target, sebuah deadline, cost production, termin pembangunan, dan lainnya.
Ada kalanya kompetisi bisa menjadi sebuah target yang baik. Contoh yang paling jelas adalah bagaimana marketing rokok rendah nikotin berlomba-lomba memasarkan produk mereka di media massa, plus berbagai event-event yang diadakan bertubi-tubi merebut target market sejenis.
Kompetisi itu bagus untuk memacu kinerja. Manchester United tidak mungkin bertanding hebat melawan Chelsea, jika nafas rivalry tidak digembar-gemborkan. Demikian pula dengan tim anda. Berkompetisilah untuk menjadi yang terbaik. Studilah kompetitor anda dan hembuskan nafas kompetisi pada setiap anggota tim.
Kesebelasan tidak mungkin berhasil mencetak gol, jika semua berebut menjadi penjaga gawang. Demikian halnya dengan sebuah tim. Tim anda tidak mungkin berhasil mencapai target, jika tidak ada pembagian tugas yang jelas.
Yakini dan percayalah bahwa HRD sudah menseleksi staf yang masuk, sesuai dengan kriteria kompetensi yang diperlukan. Bagilah tugas ke setiap personel. Lakukan meeting berkala untuk memantau kinerja setiap sub-tim.
Ketiga : Hilangkan individualisme.
Bintang lapangan sehebat apapun akan kalah jika tidak mau mengoper bola. Jika ia ngotot, tentu dengan mudah pihak lawan akan menjegal dan merebut bola darinya.
Dalam tim anda, tanamkan prinsip “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.” Hal yang menakjubkan bisa dicapai, jika ditempuh bersama-sama. Jika satu anggota tim sudah menyelesaikan tugasnya, tidak tertutup kemungkinan ia akan diminta membantu bagian lain. Hindari rasa egosentris. Jika ada rekan mengalami kesulitan, adalah kewajiban anggota tim untuk membantunya.
Tim yang bermain bersama-sama, menang bersama-sama. Tanamkan sebuah identitas bersama dalam tim, yang berbeda dengan yang lain. Misalnya sebuah tagline dalam tim marketing, atau sebuah julukan. Identitas penting agar anggota tim bisa mengidentifikasi diri sebagai tagline tersebut, dan kemudian memiliki rasa kepemilikan. Dengan demikian friksi sangat kecil kemungkinan terjadi. Seluruh anggota tim akan mengidentifikasi diri sebagai tim, dan termotivasi untuk saling membantu.
Membangun tim yang solid memang tidak mudah, tapi juga tidak mustahil. Sudah rahasia umum bahwa kinerja sebuah perusahaan tidak tergantung dari kehebatan seorang individu saja. Kesuksesan sebuah perusahaan ditentukan oleh performa seluruh orang dalam departemen. Makin solid tim anda, makin dekat anda ke gerbang keberhasilan.

Komentar
Posting Komentar