Awal Desember, saya mengalami rasa tidak nyaman di perut berupa rasa ngilu yang luar biasa pada bekas jahitan operasi saya. Kedua anak saya lahir dengan operasi Caesar, karena kondisi medis spesifik (nanti akan saya ceritakan di lain kesempatan). Singkat cerita, rasa ngilu ini membuat saya datang ke Dokter kandungan, karena saya kuatir jahitan tersebut lepas di dalam. Sebuah kekhawatiran yang wajar mengingat saya pernah di"bongkar" di tempat yang sama, dua kali.
Dan akhirnya, dokter menemukan hal lain. Ternyata saya hamil lagi. Surprise! Anak ketiga. Dan saat itu usia kandungan sudah masuk ke 11minggu. Saya sama sekali tidak menduga jika mens yang terlambat berarti kehamilan. No, no... Memang saya terbiasa haid mundur jika terlalu lelah. Apalagi waktu "kejadian" saya baru pindah kantor dan loadnya luar biasa. Mana mungkin saya kepikiran hamil?
Jadi respon pertama sewaktu disalami oleh dokter adalah... Bengong! Persis muka Tukul yang speechless kalau diledekin orang. Di mobil juga yang saya lakukan cuma diam, sementara suami mengemudi.
"Mau gimana sekarang?" Adalah pertanyaan kedua yang muncul. Timing kehamilan dirasa sedikit tidak tepat. Kok bisa-bisanya saya hamil di saat baru pindah kerja, stress berat, lelah luar-biasa, dan sebagainya... Sampai pada awalnya saya memperlakukan kehamilan ini seperti rahasia besar (please! I know it's not logical...) Karena saya adalah karyawan baru di perusahaan, dan masih dalam masa percobaan.
Konyol memang. Tapi akhirnya saya sadar juga. Di saat banyak orang setengah mati usaha supaya punya anak, saya dengan mudah dapat berkat. Ngapain pusing? Mau milih kantor atau anak? Kalo milih kantor, yakin sepadan? Kantor nggak akan selamanya nempel di kita. Kalau kita kenapa-napa, mana mungkin kantor memberikan jaminan yang sepadan? (Of course, ini kaitan dengan nyawa bayi)
Saya tersadar ketika salah seorang rekan keguguran. Ini pukulan buat saya. Saya tidak mau memaksakan diri lagi. Dengan sadar, saya menulis surat pengunduran diri. Tidak Negotiable, saya harus keluar dari situ.
Sisanya... Berusaha mencari peluang untuk kerja di rumah, mengencangkan ikat pinggang, dan banyak-banyak berdoa. Saya mengimani kalau sebuah berkat tidak akan mungkin berbuntut bencana. Pasti ada rencana Tuhan yang sangat dashyat di balik semuanya.
Toh saya masih bisa menulis. Saya masih bisa menggambar. Saya harus berhenti memperlakukan diri sebagai orang tanpa daya, dan mulai berjuang. Doakan ya!
Dan akhirnya, dokter menemukan hal lain. Ternyata saya hamil lagi. Surprise! Anak ketiga. Dan saat itu usia kandungan sudah masuk ke 11minggu. Saya sama sekali tidak menduga jika mens yang terlambat berarti kehamilan. No, no... Memang saya terbiasa haid mundur jika terlalu lelah. Apalagi waktu "kejadian" saya baru pindah kantor dan loadnya luar biasa. Mana mungkin saya kepikiran hamil?
Jadi respon pertama sewaktu disalami oleh dokter adalah... Bengong! Persis muka Tukul yang speechless kalau diledekin orang. Di mobil juga yang saya lakukan cuma diam, sementara suami mengemudi.
"Mau gimana sekarang?" Adalah pertanyaan kedua yang muncul. Timing kehamilan dirasa sedikit tidak tepat. Kok bisa-bisanya saya hamil di saat baru pindah kerja, stress berat, lelah luar-biasa, dan sebagainya... Sampai pada awalnya saya memperlakukan kehamilan ini seperti rahasia besar (please! I know it's not logical...) Karena saya adalah karyawan baru di perusahaan, dan masih dalam masa percobaan.
Konyol memang. Tapi akhirnya saya sadar juga. Di saat banyak orang setengah mati usaha supaya punya anak, saya dengan mudah dapat berkat. Ngapain pusing? Mau milih kantor atau anak? Kalo milih kantor, yakin sepadan? Kantor nggak akan selamanya nempel di kita. Kalau kita kenapa-napa, mana mungkin kantor memberikan jaminan yang sepadan? (Of course, ini kaitan dengan nyawa bayi)
Saya tersadar ketika salah seorang rekan keguguran. Ini pukulan buat saya. Saya tidak mau memaksakan diri lagi. Dengan sadar, saya menulis surat pengunduran diri. Tidak Negotiable, saya harus keluar dari situ.
Sisanya... Berusaha mencari peluang untuk kerja di rumah, mengencangkan ikat pinggang, dan banyak-banyak berdoa. Saya mengimani kalau sebuah berkat tidak akan mungkin berbuntut bencana. Pasti ada rencana Tuhan yang sangat dashyat di balik semuanya.
Toh saya masih bisa menulis. Saya masih bisa menggambar. Saya harus berhenti memperlakukan diri sebagai orang tanpa daya, dan mulai berjuang. Doakan ya!
Dear Indri, I am so happy for you. I know you can be a good mommy, as long as you won't trance while driving. :p
BalasHapusI miss you, when is our next date?
Kadang-kadang masih suka trance di belakang kemudi sih, hahaha... But will keep that it mind. Its a very dangerous thing to do ;-)
HapusNgedate nulis lagi yuuuk. kapan ya, kapan?? Lets set up a date and let me know :)