NAMAKU DIVEN

Saya teringat satu-satunya cerpen komedi yang pernah saya buat untuk Writing session.
Didedikasikan untuk sahabat saya , Diven. Forever friends, ya! :-)

Meraih Best of The Night tanggal 28 Juni 2011 di Writing Session. Not bad untuk first timer komedi ya. Ini Cerpen akhirnya menjadi cikal bakal kenekatan saya untuk nulis adegan-adegan gila di Hujan dan Pelangi 

Enjoy ya :)

Namaku Diven

Ruangan itu temaram. Semua lampu dimatikan, kecuali lampu kuning yang menyorot panel-panel presentasi. Di depan sana, sebuah perspektif terpampang lewat proyektor, menggambarkan suasana interior hotel bintang lima yang sedang ditangani kantorku.

Aku sebenarnya tidak berperan apa-apa selain menemani bossku, Mister Luke Rowe terhormat. Pemanis ruangan, istilahnya. Pajangan cantik. Satu-satunya wanita di antara kaum Adam. Seorang sekretaris yang terbengong-bengong di antara para desainer. Yah, sedikit-sedikit bisa menangkap antara warna sofa merah atau abu-abu. Tapi istilah rumit seperti Minimalis, Art Deco, Decorous atau tetek bengek lain tidak lebih selain permainan suku kata aneh dalam bahasa Latin.

Untuk keseratus kali aku menguap sambil menutupnya dengan notesku. Alamak. Apa gunanya aku di sini? Aku melirik boss besar, memberikan kode supaya diperkenankan meninggalkan ruangan. Sia-sia. Dia cuma menggeleng sambil tersenyum.

Di saat aku nyaris tertidur, ponselku bergetar. Dengan kecepatan turbo aku menyambarnya dari meja, lalu menekan tombolnya.

"Halo?" Kukatupkan tangan di speakernya, sambil berucap ekstra pelan.

"Selamat siang, Bu. Bisa dengan Pak Diven? Ini dari bank."

Aku mengernyitkan dahi. Sejak kapan aku ganti kelamin??

"Pak Diven nggak ada, Mbak," ucapku acuh.

"Apakah ini Bu Diven?"

Ah, akhirnya orang ini nyadar.

"Ya, ini Bu Diven." Aku menyahut lega.

"Ow, selamat siang Ibu..." Suara itu mulai ramah yang dibuat-buat. "Pak Diven sedang keluar, ya?"

Hukks!! Aku nyaris tersedak.

"Aduh, dari tadi kan saya bilang, Pak Diven nggak ada!" Aku spontan memekik. Beberapa orang di ruang rapat menoleh ke arahku, termasuk Luke yang menatap tajam. Aku meringis, memberikan kode maaf tanpa suara.

"Baik, Bu. Saya coba sejam lagi. Terima kasih."

Kuletakkan ponsel itu dengan kesal. Ini bukan pertama kali ada yang salah memanggilku dengan sebutan 'Pak'. Nama Diven Soetanto memang terdengar maskulin, meski kenyataannya aku seorang yang sangat-sangat feminim. Lah iya, aku seorang sekertaris yang setiap hari memaka rok, stocking, highheels. Kurang feminim bagaimana?

Lima puluh lima menit berlalu dalam kesunyian sampai ponsel jelek itu bergetar lagi. Aduh, nomor yang sama. Tidak ada pilihan lain. Kuraih ponsel itu, mengangguk cepat pada Luke, lalu bergegas meninggalkan ruang meeting.

"Halo!"

Suara centil itu mulai berkicau lagi. "Selamat siang, Bu. Apakah Pak Diven sudah kembali?"

Kali ini ada petir menyambar di ubun-ubun. Sapaan itu begitu ringan, begitu kasual. Seakan-akan tidak ada apa-apa.

"Eh, mbak..." Aku menekan suaraku hingga turun beberapa oktaf. "Apakah saya terdengar seperti laki-laki?"

"Hah?? Ma-Maaf... Maksudnya?"

"Saya tanya anda. Tadi nangkap nggak kalau Pak Diven nggak ada?"

"Eeerr... Iya."

"Pak Diven tidak ada..." Sumbu di kepalaku mulai tersulut. "Dan tidak pernah ada karena yang eksis cuma Bu Diven. Catat baik-baik! BU DIVEN!!"

"Oh... Eh... Maaf."

"Kamu orang bank bisa membedakan Miss dan Mister, nggak? Sudah jelas-jelas di dokumen saya ttelnya Miss, bukan Mister!"

Keheningan mendadak hadir. Aku sampai takut dia kena serangan jantung, atau jatuh dari kursi dan pingsan. Namun aku kecewa ketika suara itu menyahut lagi.

"O iya, Bu. Hehehehe...."

Dia kembali berubah centil setelah sebelumnya panik. Sekarang ditambah ekstra tertawa pula!.

"Lah, kok malah ketawa sih?" Keningku menngernyit. "Ini saya ngomel beneran loh!"

Suara di seberang line telpon itu terdiam sesaat, kemudian menyahut dengan sangat-sangat menyebalkan. "Ibu marahnya lucu sih. Hihihihi... Mana bisa saya takut kalo suara Ibu ngegemesin begitu. Hehehehe..."

Aku menganga, melorot di sofa sambil menepuk kepalaku berulang-ulang. Langit-langit lobby seakan berputar dan runtuh menimpaku. Di ponsel, si bacot terus menceracau tentang hal-hal yang nggak penting.

"... Hehehe... Begini, Bu. Aduh, saya jadi malu... Hehehe. Habisnya nama Ibu beneran kayak laki-laki sih. Maaf, ya... Saya dimaafkan ya, Bu. Ya, ya, ya?"

Tabah. Tabah, Diven. Tabah.

"Ya sudah. Nggak apa." Aku mendengus. "Kenapa mbak cari saya?"

"Oh, iya. Hehehe. Saya jadi lupa. Gini loh. Ada program dari bank kita untuk nasabah pilihan. Bu Diven termasuk nasabah yang beruntung nih..."

Dahiku mulai berkerut lagi.

"Kami melihat record kartu kredit Bu Diven di tahun ini dan bla-bla-bla... Transaksi-transaksi yang bagus, saldo juga kwek-kwek-kwek... Hehehe, asuransi juga nya-nya-nya..."

Aku nyaris tertidur

"Jadi bagaimana Bu Diven. Apakah tertarik?"

Tanpa sadar kutepuk dahiku untuk kesekian kali. Tertarik apa? Keracunan malah iya.

"Kesempatan yang jarang didapat..."

"Ya, ya, saya tahu." Segera kupotong suaranya sebelum dia kembali berbla-bla-bla nggak jelas."Tapi saya belum butuh kartu kredit tambahan saat ini."

"Oh, begitu. Sayang sekali, Bu. Soalnya bla-bla-bla, kwek-kwek-kwek..."

Kujauhkan ponsel dari telinga sambil menggoyangkan kepala kiri-kanan, berharap si empunya suara akan tobat dan berhenti menceracau.Tak sabar, ponsel kumatikan sambil menggerutu.

Hari masih belia dan aku mau hidup panjang. Aku tersenyum simpul ketika Pak Erwanto, sekuriti kantor tertawa terbahak-bahak.

"Jadinya Pak Diven atau Bu Diven, mbak? Hahaha..."

Aku terpaksa ikut tertawa. Kukirimkan sms ke rumah supaya Mama menyiapkan bubur merah-putih. Besok aku ganti nama jadi Astuti!

***

Komentar