WRITER LIFE.. CAN IT BE A PRIORITY?

Hai semuanya...

Sejak saya menjalani hidup sebagai orang rumahan, ternyata resolusi awal sebagai penulis tidak dapat tercapai.
Why? Ada beberapa sebab :)

1. Saya terlalu sibuk dengan anak-anak saya.
 Which is a very natural thing to do... anter jemput anak, urusin kalau ada yang sakit, rewel, bikin peer, ulangan, dsb dsb... Bahkan juggling antara antar si sulung  (jam 7 pagi) ke anter si bungsu (jam 8.20 pagi) dan jemput mereka di jam 11 & jam 1, cuma menyisakan waktu satu jam di sela-selanya (tentu dipotong waktu perjalanan dan traffic)

Strategi awal adalah : menulis di antara jam-jam singkat itu, tanpa gangguan. Just me and my laptop. nongkrong di tempat sepi, ngedate berdua. Melamun, mengkhayal...

eh, ternyata... Enggak bisa *pengin nangis. sumpah!

Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain itu luar biasa lelah. Plus traffic, plus panas dan polusi. Akhirnya saya lebih doyan ngaso & minum daripada konsentrasi nulis.

2. Sejak bebas tugas dari komunitas menulis, kok di kepala isinya editor melulu...

Saya mau mengutip mbak Alberthiene Endah, terutama 140 karakter di twitternya mengenai #NyaliMenulis

"Jika kita terlalu terpaku pada pendapat orang lain saat menulis, roh tulisan itu akan menjauh dari diri kita. Itu proses yang buruk."

"Menulis itu butuh believe. Kita harus jadi strong believer pada tulisan yang kita buat."

Ada kalanya kita menulis tanpa peduli apapun juga. Mau bagus kek, mau jelek kek... sebodo amat! Tapi makin kita belajar mengenai prinsip-prinsip menulis yang baik, makin kita mulai berpikir sebelum mengetikkan kata-kata itu di laptop.

"You make the first draft with your heart, then edit with your head." _ Finding Forrester

Setuju, teman-teman? :-)
Mari kita sama-sama mengaktifkan kembali sensor menulis kita. Ciayoooo!!! #lebay :)))

Komentar