Aku Dan Timothy

Setiap Natal aku teringat pada Timothy, satu-satunya teman karibku saat menjalani masa-masa workaholik sebagai penuntut di negara bagian Pensylvania. Kami dulu begitu akrab, meskipun berbeda ras dan karakter. Aku Asia, dia bule. Aku super serius, dia komikal. Banyak sekali hal yang bertolak belakang, tapi malah membuat kami erat.

Timothy tipe bule gagal tumbuh. Tingginya cuma sekitar 160 senti, sedikit dibawah telingaku. Posturnya kurus dengan perut buncit. Dia sangat sangat fanatik dengan makanan sehat, sampai setiap makan siang menunya selalu sama. Sandwich roti gandum isi telur rebus, wortel parut, kol ungu, tanpa mayones. Pernah aku mencoba menyodorinya Timtam, dia mengernyit seakan disuguhi racun.

 “Tahukah kau berapa kalori itu?” pekiknya.

 “Well, cukup kalori untuk memperbaiki posturmu yang kurang gizi,” sahutku sambil menyorongkan benda itu lebih dekat.

Diambilnya Timtam itu dari tanganku, lalu mulai mengendus-endus. Mulutnya mengerucut dan kumisnya bergoyang-goyang. Kemudian ia membuat mimik lucu (setidaknya menurut dia) sambil separuh melempar kue itu ke kotaknya. Ini akan diikuti dengan gelak tawaku yang menggema di keheningan ruang kantor, berikut protes keras dari kubikel sekitar yang merasa kedamaiannya terusik.

Maklumlah, karena demikian aneh, mereka menyebutnya kurang sopan. Namun aku cukup mengenalnya untuk mengetahui kapan harus tertawa karena lelucon ngawurnya itu.

Timothy adalah orang yang sinis hampir dalam segala hal. Dia tidak malu mengakui bahwa dirinya seorang yang licik dan sombong.

“Dalam pengadilan, semua orang harus pakai akal-akalan,” ujarnya bangga. “Kau pikir kenapa aku menang terus? Kalau aku tidak sombong, tidak mungkin aku menang berturut-turut.”

Karena itulah dia jarang punya teman. Aku pun dulu menganggap dia freak, sampai kemudian pikiranku terbuka di akhir tahun lalu. Saat itu aku baru putus dengan pacarku dan memutuskan untuk tidak merayakan malam Natal. Aku membenamkan diri di kasus pembunuhan tingkat satu, memacu otakku agar si keparat John Dobson bisa dihukum mati karena menembak seorang polisi lima kali di kepala. Kasus ini berat dan aku tidak yakin bisa menang.

Yang menemaniku di kantor hanya Timothy, yang juga berkutat dengan pekerjaannya. Namun aku tahu dia tidak fokus, karena sebentar-sebentar dia berdiri dan berjalan mondar-mandir serta menggumam tak jelas. Kadang-kadang mukanya bersemu merah, berdiri mematung sambil bersandar ke dinding. Satu tangan menumpu di pinggang dan satu lagi mengusap-usap kumisnya yang tipis. Semakin malam ia makin menjadi-jadi, sering mencicit dan berdecak-decak sendiri. Mungkin berusaha mencari perhatianku, tapi kali ini aku terlalu malas untuk meladeni. Moodku tidak bagus.

Karena diacuhkan, dia akhirnya bolak-balik pantry. Entahlah. Mungkin membuat kopi atau mengambil buah di kulkas. Langkah kakinya benar-benar mengganggu. Sret... Sret... Sret... Seperti seekor kucing yang membawa bangkai tikus. Aku masih tetap berusaha fokus, sampai kudengar bunyi “kriuk-kriuk” dari rahangnya yang mengunyah kacang. Pada akhirnya, kubanting kacamataku ke meja lalu menatapnya kesal.

“Come on, Man... Aku mau kerja!”

Mahluk itu tak bergeming dengan pandangan ke piring kacang di depannya.

“Arthur, tahukah kamu...” Sesaat kemudian dia membuka suara. “... bahwa kamu tidak akan menang melawan Dobson?”

Aku mengernyitkan dahi. “Tidak ada yang bisa memastikan. Toh ini kasus berat.”

“Betul. Tapi tuduhan pembunuhan tingkat satu dengan hukuman mati belum pernah dikabulkan di negara bagian Pensylvania. Cek amandemen kelima. Kau harus naik banding atau turunkan dakwaanmu jadi pembunuhan tak berencana.”

“Ngawur kau!” Aku berusaha tertawa. “Mana ada ditulis begitu di Amandemen kelima?”

“Eh?? Kau kuliah dimana sampai tidak tahu?” Suaranya mulai meninggi. Diambilnya bundel besar dari rak buku, dan diletakkan di mejaku dengan separuh membanting. Kekesalanku memuncak. Aku berdiri dari kursi hendak mengkonfrontir.

“Kau baca baik-baik. Ada di sekitar halaman lima ratusan,” Timothy berucap acuh sambil membalik badan. “Aku pulang dulu.”

Tinggallah aku seorang diri di kantor dengan emosi mengelegak. Untunglah dia pergi, karena kedua tanganku sudah bersiap untuk melayangkan hook ke rahangnya yang mendongak itu.

Kujatuhkan diriku ke kursi dan mengusap rambutku asal. Hari yang sangat jelek. Mungkin lebih baik aku keluar sebentar mencari angin. Kubenahi meja sekadarnya. File-file yang berceceran kutumpuk dan kumasukkan dalam binder. Buku-buku kukembalikan ke rak. Aku meraih Amandemen kelima dari mejaku dan mengangkatnya, hendak mengembalikan bundel lima belas senti itu ke rak ketika kusadari ada sesuatu menggembung di antara halaman. Sebuah bungkusan sebesar kepalan tangan yang terbungkus rapih dengan kertas kado biru motif salju Natal terjejal di halaman lima ratus dua puluh. Kuraih benda itu sambil terheran-heran, lalu membaca kartu ucapan di depannya.

“Merry Christmas, Arthur.
Don't work too hard!
From Timothy.”

Ternyata orang aneh itu bisa baik hati juga! Sebuah dasi bermotif Sinterklas kemudian melingkar di leherku. Kado Natal pertama di tahun ini sekaligus dari orang yang tak terduga. Kuraih handphoneku dan kuketik kata-kata terima kasih. Ini adalah awal pertemanan yang sempurna bagi kami. Sayang Timothy meninggal tak lama setelah tahun baru, karena ditembak oleh komplotan perampok yang ia dakwa. Hal itu juga yang membuat aku memutuskan untuk pamit dari kantor penuntut dan mencari pekerjaan yang lebih aman. Setidaknya aku bisa menjamin bahwa Natal tahun depan aku masih hidup, dan aku masih bisa memakai dasi Sinterklas itu untuk ke gereja.***

Note : Stock cerpen lama. Enjoy :-)

Komentar