Jika Januari sempat menjadi full stay at home mom (yang nyambi menulis sambil ngurus dua bocah), sekarang mendekati hari H, saya malah nekad full time ngantor lagi.
Why, oh why?? :-)
Jawabannya : Karena nggak betah di rumah. Bosan abis. Malahan stress krn ngurusin bocah yang makin manja setelah mommynya di rumah.
Wel, I am not trained to be a housewife yang suka masak, beres-beres rumah dan ngeladenin anak. Seumur-umur saya lebih terbiasa ngurusin gambar kerja, tender sampai urusan lapangan. Angkat topi deh buat para stay at home mother! Apalagi buat para SaHM yang nyambi ngurusin kerjaan dari rumah, entah itu online shop atau lain-lainnya.
Sempat memperlakukan kegiatan di rumah seperti ngantor. Bikin timetable : jam sekian sampai sekian nulis artikel, jemput anak, bikin menu masakan, groceries, blablabla... Akhirnya jadi stress sendiri karena skedul tidur siang anak yang molor dua jam dari rencana (dan merusak jadwal saya berikutnya) atau hal-hal lain yang tak terduga seperti jemput anak pulang sekolah yang molor karena ekskul belum keluar.
Other issue yang nggak kalah penting adalah urusan duit. Entah kenapa salah satu website yang saya asuh kok malahan mandek. Padahal income dari situ lumayan (keluarin kalkulator)... Website itu mulai berjalan lagi di April, dan terseok-seok sampai sekarang karena satu dan lain hal.
So hidup nyaman dari rumah, kerja jadi full time writer sambil ngurusin anak tidak terwujud. Saya balik lagi ngurusin gambar dari rumah, jadi arsitek lagi. Sampai akhirnya saya berpikir : ngapain di rumah kalau tetap saja ngurusin gambar (lagi)? Ngantorlah saya di dekat rumah. Bisa nengok anak sedikit-sedikit. Kerja nggak terganggu anak-anak yang per lima menit sekali nangis cari mommynya (uhuk... yeah, they are momma's precious jewels!!). Sukur-sukur income lebih stabil.
Soal menulis... Kembali bergeser menjadi sebuah hobi yang menghasilkan uang. Tapi bukan yang utama seperti yang diharapkan dulu. Kayaknya ini yang terbaik. Kayaknya saya juga belum sipa jadi full time writer. I have bills to pay, third kid on the way. Juga seabreg agenda yang mau nggak mau harus dipenuhi per bulan dengan paycheck rutin.
Masih berharap jadi penulis sungguhan. Bermimpi jadi penulis full time sampai bisa hidup dari ranah penulisan saja. Tapi hey... Kurnia Effendi yang segitu terkenal juga masih jadi karyawan kantoran euy! Jangan dipaksa. Mungkin memang jalan saya untuk tetap jadi orang kantoran yang punya identitas tersembunyi sebagai penulis :-)
Mengutip C.S. Lewis : "You are never too old to set another goal or dream a new dream"
Maknyussss... Top Quotes banget!! :))))
Why, oh why?? :-)
Jawabannya : Karena nggak betah di rumah. Bosan abis. Malahan stress krn ngurusin bocah yang makin manja setelah mommynya di rumah.
Wel, I am not trained to be a housewife yang suka masak, beres-beres rumah dan ngeladenin anak. Seumur-umur saya lebih terbiasa ngurusin gambar kerja, tender sampai urusan lapangan. Angkat topi deh buat para stay at home mother! Apalagi buat para SaHM yang nyambi ngurusin kerjaan dari rumah, entah itu online shop atau lain-lainnya.
Sempat memperlakukan kegiatan di rumah seperti ngantor. Bikin timetable : jam sekian sampai sekian nulis artikel, jemput anak, bikin menu masakan, groceries, blablabla... Akhirnya jadi stress sendiri karena skedul tidur siang anak yang molor dua jam dari rencana (dan merusak jadwal saya berikutnya) atau hal-hal lain yang tak terduga seperti jemput anak pulang sekolah yang molor karena ekskul belum keluar.
Other issue yang nggak kalah penting adalah urusan duit. Entah kenapa salah satu website yang saya asuh kok malahan mandek. Padahal income dari situ lumayan (keluarin kalkulator)... Website itu mulai berjalan lagi di April, dan terseok-seok sampai sekarang karena satu dan lain hal.
So hidup nyaman dari rumah, kerja jadi full time writer sambil ngurusin anak tidak terwujud. Saya balik lagi ngurusin gambar dari rumah, jadi arsitek lagi. Sampai akhirnya saya berpikir : ngapain di rumah kalau tetap saja ngurusin gambar (lagi)? Ngantorlah saya di dekat rumah. Bisa nengok anak sedikit-sedikit. Kerja nggak terganggu anak-anak yang per lima menit sekali nangis cari mommynya (uhuk... yeah, they are momma's precious jewels!!). Sukur-sukur income lebih stabil.
Soal menulis... Kembali bergeser menjadi sebuah hobi yang menghasilkan uang. Tapi bukan yang utama seperti yang diharapkan dulu. Kayaknya ini yang terbaik. Kayaknya saya juga belum sipa jadi full time writer. I have bills to pay, third kid on the way. Juga seabreg agenda yang mau nggak mau harus dipenuhi per bulan dengan paycheck rutin.
Masih berharap jadi penulis sungguhan. Bermimpi jadi penulis full time sampai bisa hidup dari ranah penulisan saja. Tapi hey... Kurnia Effendi yang segitu terkenal juga masih jadi karyawan kantoran euy! Jangan dipaksa. Mungkin memang jalan saya untuk tetap jadi orang kantoran yang punya identitas tersembunyi sebagai penulis :-)
Mengutip C.S. Lewis : "You are never too old to set another goal or dream a new dream"
Maknyussss... Top Quotes banget!! :))))
Komentar
Posting Komentar