Kerja keras Atau Kerja Rodi?

Sejak rumah direnov (dan status BU), saya jadi agak menggila dalam ngambil job sampingan. Sampai-sampai apapun saya embat... Toh kata Merry Riana dalam buku "Mimpi Sejuta Dollar": Ambil kesempatan, sekecil apapun. Siapa tahu kesempatan kecil itu akan berbuah kesempatan besar. Jadi hajar aja deh. Pokoknya mau tidur nggak tidur, saya harus kerja. Capek nggak boleh dirasa. Insomnia yang sebelumnya menjadi penyakit akut (saya insomnia sejak SMA) kini menjadi kewajiban.

Saya bisa ngomel-ngomel nggak keruan kalau jatah insomnia saya habis alias mendadak 'tidur normal'. Kenapa? Saya butuh melek! Saya butuh kerja karena kerjaan lagi banyak.

So... Kerja-kerja-kerja!

Kerja terus sampai akhirnya saya akhirnya nyadar bahwa semua kerja keras itu nggak ada profit yang berarti. Semua Rupiah yang dihasilkan nggak jatuh ke budget rumah, melainkan masuk ke dana nalangin biaya medical checkup, biaya les privat anak, sampai biaya tes IQ anak, plus terapi dan konsul dokter.

Jadi ngapain saya kerja ya? Sampai nggak tidur segala??

Mendingan pasrah aja sama Sang Hyang Widhi. Mau dikasih rejeki berapa, nikmatin aja. Yang penting saya masih ada waktu untuk main sama anak, bantu anak belajar ulangan, bacain buku cerita buat mereka... Dan yang lebih penting lagi, saya jadi punya waktu untuk baca buku (stok novel yang masih di plastik segunung!!)

Bayangin! Sampai nggak ada waktu buat baca buku... Gubrak!!

Anyhow, anyway.... Sekadang selain sudah tobat, mesti belajar bersyukur. Bisa pulang tiap lunch ke rumah, main sama bocah yang lagi unyu-unyunya. Trus bonus bahwa insomnia saya sembuh & saya bisa sukses terlelap sebelum jam 11 malam (•ˆ⌣ˆ‎​​​​•)

Komentar