Dompet Pak Mayor



"Dompet Bapak Mayor hilang!"

Kalimat itu berputar-putar di udara. Suara bariton Pak Mandor bergaung seiring gema kasak-kusuk dari seisi ruangan yang mencicit ketakutan. Konveksi ini baru dua bulan berdiri atas inisiatif Pak Mayor, yang berprinsip kalau semua orang harus diberi pekerjaan halal. Beri kail, bukan ikan. Total lima puluh karyawan pabrik yang notabene masyarakat menengah ke bawah diangkat derajatnya dari pemulung, tukang minta-minta sampai eks pelacur. Kaum pria disalurkan ke jalur pekerjaan kasar seperti penjaga parkir atau bagian tata laksana kota, sedangkan untuk para wanita ditempatkan di bagian produksi.

Hampir seluruh perempuan di kota Sureal bisa menjahit, termasuk Arni. Ia malah yang terbaik dari semua pekerja yang ada. Jahitannya rapi. Ia tidak bisa baca-tulis, tapi bisa menyulam jauh lebih baik dibanding semua wanita di kota ini.

"Jadi..." Pak Mandor berjalan di depan barisan pekerja sambil mendengus. "... Belum ada yang mengaku??"

Arni disikut dari samping. Ia mendelik.

"Ini keterlaluan! Pak Mayor udah capek-capek nolong kalian, biar kalian punya penghasilan halal! Eh, sekarang?? Bah! Sekali maling, ya tetap aja maling!"

Kali ini Arni merasa ada yang memanggil namanya dari belakang. Pelan. Tapi masih dalam rentang pendengarannya.

"Ngaku, Ni. Cepetan! Dari pada dia makin marah!"

Arni menggeleng. Ngaku apaan? Wong, dia nggak ambil kok ngaku?

Muka Pak Mandor memerah. Mulailah ia merepet tentang nilai moral, agama, dan tetek bengeknya sambil ultimatum kalau pabrik ini akan ditutup kalau nggak ada yang buka mulut. Beberapa detik kemudian, Arni merasa namanya disebut lagi. Kali ini dengan lantang.

"Begini, Pak... Kemaren Mbak Arni dapat sms lagi dari kampung." Dini si penggunjing mulai berceloteh. "Saya dengar waktu Sumi bacain, tuh. Katanya anaknya sakit. Terus minta dikirimin duit."

Arni menunduk. Sial! Dobel sial!

"Arni memangnya sudah kawin?"

"Sudah, Pak. Cuma lakinya kabur," kata Dini santai. "Makanya dia kerja di Sureal, Pak. Dapetnya lebih banyak dari nyawah. Terus barangnya sekarang bagus-bagus sejak kerja di sini, Pak. Kemaren juga beli arloji baru."

Buka mulut, Arni! Sebelum si Bacot mulai berkicau lebih jauh.

"Arloji ini mau saya kirim buat anak, Pak." Arni memaksa diri bicara. "Dia ngambek karena saya tinggal kerja. Tapi saya selalu kerja halal, kok Pak. Nggak pernah nyolong."

"Pak Mandor, saya mau ngomong juga." Sebuah suara muncul dari barisan. "Minggu lalu duit saya ilang lima puluh ribu. Tapi saya nggak berani bilang takut heboh."

Suasana memanas. Seisi ruangan ribut. Arni menyesali seluruh latar belakang yang tidak mendukungnya di saat ini. Satu, dia pendatang baru. Dua, tidak ada yang tahu siapa keluarganya dan dari mana ia berasal. Cuma kumpulan sms yang terpaksa dibacakan oleh teman-teman pekerja, karena ia cuma bisa membaca dan menulis namanya sendiri.

Sayangnya semua sms itu isinya cuma tentang uang. Dia menitipkan anaknya ke tetangga dengan janji akan membayar lima ratus ribu per bulan. Dan hingga saat ini, dia masih belum bisa mengirim sejumlah yang dijanjikan.

"Udah pasti berarti! Aduh."

"Pak, keluarin aja! Daripada ada yang hilang lagi!"

"Diam dulu! Diaaam!!!" Suara Pak mandor menggelegar di udara. Tangannya memberi tanda supaya Arni bicara.

Dan gadis itu membuka mulutnya. Mengeluarkan segala macam pembelaan. Dia menceritakan semua tentang dirinya, anaknya, juga kisah hidupnya dengan jujur, sambil berharap kejujuran berbuah baik.

Ternyata hasilnya amat jelek.

Buruk!

Arni melangkah pulang ke mess berlinang airmata. Episode indah kehidupan sudah berakhir. Dia harus segera mencari pekerjaan baru.

***

Dua minggu kemudian sebuah sms masuk. Arni dengan spontan meraih ponselnya dan mendapati deretan alfabet tanpa makna.

Ada tangan kekar memeluknya dari belakang, disertai ciuman bertubi-tubi di leher. Arni membalikkan badan dan meladeni. Ranjang kamar hotel mulai bergetar dengan hebat. Ponsel terjatuh ke lantai dengan layar menampilkan dua baris kalimat.

"Pak Mandor suruh kamu balik kerja, Ni. Pencuri dompet Pak Mayor sudah ketemu."

***

Komentar