Sampai kapan?


Sudah nyaris tiga bulan tidak mengupdate blog. Tahu-tahu sudah akhir Maret dan  banyak banget yang terjadi.

Firstly, gue mulai ngegym lagi. Berharap bisa agak fit dan enggak sebentar-sebentar darah rendah kumat.

Terus, gue mulai gencar nulis lagi. Berharap tulisan ini bisa kelar di tahun 2016 *doakan ya...*cross fingers...

Next, gue ngerasain dipergunakan dengan maksimal oleh company yang baru ini. Too bad nggak bisa dibuka storynya di sini, but hell yeah... Dengan paycheck yang diterima, dan segala makan-makan *oops* maksudnya, berbagai lunch meeting yang gue alami (di tempat-tempat yang I cannot afford), ya gue merasa gratefull.

Contoh kasus untuk yang terakhir adalah *jeng-jeng-jeng* gue merasakan makan sate seharga Rp.550.000,- (Lima ratus lima puluh ribu perak) di Resto Harum Manis tiga hari yang lalu. Something yang enggak bakal gue lakukan, dan enggak rela bayar demi seporsi sate, meskipun satenya emang enak.

Anyway, busway... Hari ini masuk perenungan Paskah. Gue mulai mengulang semua yang terjadi di hidup gue akhir-akhir ini dan jujur, gue sangat bersyukur. Hidup gue penuh warna banget. Dari mulai kerjaan baru yang menantang, ex.colleagues yang masih kontak dan welcome kalau gue main ke kantor lama, sampai keluarga, kesehatan dan umur panjang yang dikasih Tuhan ke gue.

Tiga minggu lalu, ada suatu kejadian. Maklum arsitek, hidup gue berkutat seputar kaca, besi, marmer, beton, atau kayu. Waktu itu entah gue lagi slebor atau gimana, sample marmer yang disenderkan di dinding jatuh dan menimpa kaki gue. Bukan benda kecil loh. Coba bayangin dua lempeng marmer setinggi 60 senti yang jatuh serentak. Lempengan pertama sukses menimpa paha kiri dan kanan. Lempengan berikutnya aga sedikit kreatif : menghajar lutut kiri, lalu sudut marmer itu menggores betis, dan meninggalkan sobek panjang sebesar sembilan senti hingga berakhir di bagian belakang dari lutut.

Sampai sekarang sisa luka dan memar masih ada. Tapi gue beruntung enggak ada yang fatal. Gue masih bisa jalan, meskipun agak pincang. Seminggu setelahnya, gue sudah balik ngegym sampai trainer yang disana teriak-teriak suruh gue turun dari treadmill.

Sad but true, pekerjaan yang selama ini jadi kebanggaan gue memang bukan pekerjaan yang aman. In fact, asuransi untuk pekerja konstruksi itu guede banget preminya. Tiap hari kerjaan gue memang bolak-balik proyek dan manjat-manjat scaffolding. Pakai helm dan sepatu safety itu sudah makanan sehari-hari.

So pertanyaannya... Sampai kapan gue bakalan kerja kayak gini?

If God allows me, kalau gue sudah pensiun nanti, gue pengin banget punya karir jadi penulis novel. Maybe buka coffee shop kecil-kecilan, jadi gue bisa nongkrong ngejagain lapak sambil buka laptop dan ngelarin nulis.

A dream is a dream. Kita manusia cuma bisa bersyukur dan berserah.

Happy Easter all... GOD BLESS YOU.

Komentar