"Aku malas ke gereja hari ini."
Raras, pacarku mendelik. "Ini sudah di parkiran. Baru ngomong sekarang?"
Aku menjulurkan lidah. "Ngantuk. Mau tidur."
Raras menarik tanganku masuk ke gereja, separuh menyeret. Aku menurut. Tipikal pacarku ini akan ngambek berkepanjangan kalau tidak dituruti.
"Pastornya itu lagi!"
Romo Yansen melangkah masuk. Pastor tua itu terkenal hobi berputar-putar kalau memberikan kotbah. Aku memang bukan orang yang religius. Bahkan aku tidak akan pernah melangkah ke gereja kalau bukan karena Raras.
Di pertengahan misa, suara Romo Yansen berubah menjadi gaga-gugu samar. Aku menguap, melipat tangan di dada, dan memejamkan mata.
Dengan latar belakang homili, aku melayang ke negeri impian.
***
"Guru, kami tunggu di sini saja."
Aku menoleh kaget. Tiga orang berjubah nampak di belakangku.
"Kamu...Eh?" ujarku ragu.
"Jangan kamu ulang lagi, Petrus." Orang kedua menyahut. "Guru dari tadi sudah mau naik tapi nggak jadi-jadi gara-gara kamu panggil melulu."
"Ah, dasar tukang meledek." Kembali orang pertama buka suara. "Dasar!"
"Yohanes! Petrus!" Satu orang lagi menyahut. "Jangan bercanda di sini. Guru, silahkan kalau mau berdoa. Kami akan tunggu di bawah sini."
Yang satu lagi agak tua dan berjanggut putih. Aku mulai mengingat-ingat kitab suci yang rutin dibacakan Raras padaku. Murid Yesus ada tiga orang yang mengantar ia ke Getshemani : Yohanes, Yakobus dan Petrus.
Wait... What???
Langkahku di antara bebatuan terhenti. Aku menatap sekeliling dengan tak percaya. Lereng bukit diselimuti rumput dan semak belukar. Pohon-pohon tinggi. Suasana malam. Aku membungkuk, mengamati kakiku yang berkasut. Bajuku berubah jadi jubah panjang dari kain kasar. Kuraba wajahku, dan terkaget-kaget medapati diriku berjanggut.
Aku.... Aku Yesus??
Aku menjatuhkan diri ke tanah. Mencari batu besar untuk bersandar. Ini gila! Aku jadi Yesus??
Tunggu, tunggu! Aku mengusap kepalaku, melarikan jemariku ke rambut yang mendadak panjang sebahu.
Kalau ini Getshemani, berarti.... Sebentar lagi akan ada orang-orang datang... Untuk menangkap aku??
Aku menangkupkan kedua tangan ke wajah, menggeleng-gelengkan kepala berulang-ulang. Tuhan, ini lelucon luar biasa dashyat! Cuma gara-gara aku tidur di gereja, kau berniat buat aku kapok dengan membuatku mengalami ini.
"Hahaha, makasih joke-nya, Tuhan." Aku berucap sendiri. Kakiku mulai menapaki jalan setapak lagi, turun dari bukit berbatu. "Udah kapok, kok. Please. Aku mau balik ke gereja saja, ya. Aku janji deh akan mendengarkan homili dengan baik."
Kepalaku menengadah ke langit. Tangan terentang.
"Oke, Tuhan. Pulangin aku, ya!"
Tapi tidak ada terjadi apa-apa. Aku menunggu dan menunggu, berharap ada laser beam ala Startrek yang akan menyambar tubuhku dan membawaku kembali ke Gereja St Joseph. Tapi nihil. Suasana sepi terasa makin senyap.
Aku menuruni bukit dengan menggerutu. Menapaki bebatuan dengan alas kaki kasut tipis yang sama sekali tidak membantu. Adidas-ku jauh lebih nyaman daripada sepatu sandal kulit kasar ini. Dua kali aku tergelincir dan nyaris jatuh.
Sampai di dasar lembah, aku mendekati tiga orang tadi. Aku harus memaksa mereka memberitahu jalan keluar dari sini, bagaimana pun caranya.
Tak disangka, tiga orang itu tertidur. Pulas. Mendengkur.
Aku mengulurkan tangan, menyentuh mereka satu persatu dan berupaya membangunkan. Tapi tidak berhasil.
"Disuruh menunggu sebentar saja, sudah tidur! Gila!"
Aku kembali naik ke atas lembah, berusaha mencari jalan keluar dari sini. Di balik pepohonan, semak, atau bebatuan, tidak ada apapun.
Malam makin larut, seiring aku makin takut. Aku melangkah makin cepat, mencari cara untuk pergi dari sini.
Sayup-sayup terdengar suara orang tertawa. Orang melangkah. Aku berhenti, memasang telinga mendengarkan. Kerumunan orang membawa obor, berpakaian serdadu.
Mereka datang untuk menangkapku. Menangkap Yesus.
Aku merasa bulu kudukku naik. aku berlari, dan berlari. Hingga akhirnya aku terjatuh di sebuah pelataran. Napasku terengah-engah. Aku sudah tidak sanggup lagi. Tenagaku habis.
Aku menyandarkan diri ke sebuah batu besar. menyurukkan kepalaku ke sana dan menangis. Begitu keras seperti bayi. Aku teringat kehidupanku yang nyaman di jakarta, pekerjaanku, rumahku.
Tuhan, umurku baru tiga puluh tiga dan baru saja merasakan nyaman sebagai pegawai kantoran. Kenapa kau membuat lelucon seperti ini, menjadikan aku sebagai lakon Mesias di Taman Getshemani.
Aku tobat, Tuhan! Ayolah, teleport aku cepat-cepat keluar dari sini. Aku nggak mau ditangkap serdadu.
Aimataku mengalir, membasahi batu. Mengalir deras bagaikan banjir.
Batinku berbisik. Mungkin ini yang dirasakan Tuhan Yesus waktu itu. Tuhan Yesus tahu ia akan mati dan ia tahu pasti bagaimana ia akan mati. Namun Yesus dengan berani menjalaninya.
Tidak seperti aku yang pengecut. Iman yang tidak sampai sepersepuluh biji sesawi. Bah! Kalau benar aku menyebut diri orang Kristen, maka malulah aku. Setiap orang Kristen harus mau menjalani salibnya.
Hey, Marius... Kalau ini memang salibmu, dalam arti benar-benar salib fisik, maka relakanlah dirimu menjalaninya!
Tanganku merapat membentuk lipatan. Aku menundukkan kepala. Dan mulai berdoa.
"Allah Bapa di surga," ujarku pelan. Tangisku mereda, namun suaraku masih parau. "Ijinkan aku untuk bicara, Tuhan." Aku menatap tanganku yang tergenggam. Dua tangan itu gemetar dengan hebat. "Jika boleh cawan ini diambil dari tanganku... Karena aku nggak yakin sanggup untuk meminumnya. I-ini cawan berisi racun, Tuhan." Aku terdiam. "Aku tahu ini pembelajaran bagiku, Tuhan. Sungguh! Aku sudah berubah! Aku nggak mau mati."
"Maksudku... Kenapa aku yang harus mati, Tuhan? Kenapa Yesus yang harus mati. Aku sungguh nggak ngerti, Tuhan. Kenapa nggak terus aja ia mewarta, lalu akan makin banyak yang diselamatkan kan?"
Suara orang-orang itu makin mendekat.
"Oke Tuhan, nggak masalah aku mati." ujarku makin kencang. "Cuma kasih tahu ke aku, apa pelajaran yang didapat di sini. Aku bukan Yesus. Tunjukkan ke aku, kenapa aku harus mati? Nggak fair, Tuhan! Aku cuma tiga puluh tiga! Aku laki-laki biasa!"
Aku terdiam. Terhanyut dalam isakan tangis. Aku laki-laki yang mau mati sebentar lagi. Nggak ada yang bisa kulakukan lagi, selain berserah.
Raras selalu bilang bahwa ada rencana dashyat di balik semua bencana. Aku mulai berpikir dan mengira-ngira sebenarnya apa rencana Tuhan di balik semua ini.
"Aku nggak memulai ini, Tuhan. Dan aku nggak ngerti apa-apa. Cuma kalau tidak ada pilihan lain, biarkan aku menjalani jalan-Mu dengan sebaik-baiknya." Aku menghela napas.
"Tuhan, jalan-Mu memang berat. Namun semua ada di tangan-Mu, dan yang bisa kulakukan hanya berserah."
Aku merentangkan kedua tanganku ke langit, menengadah.
"Aku akan meminum cawan ini, Tuhan. Aku akan rela menerima salib ini sebagai bagian dari imanku kepada-Mu!"
Saat itu juga sekumpulan orang menyergapku, memakuku ke tanah. Dan aku tidak melawan.
"Marius!! Marius!!"
Aku terlompat kaget. Di sebelahku, Raras mendelik kesal. memberi kode agar aku berlutut. Di altar, Romo Yansen memulai konsekrasi. Mengangkat tinggi hosti pralambang tubuh Kristus, Sang Anak Domba yang dikorbankan di kayu salib.
Aku mengatupkan kedua tangan dengan khidmat. Mengikuti misa dengan rasa syukur dalam hati. Puji Tuhan bahwa aku masih diberikan kehidupan yang baik, umur yang panjang, dan berkat rahmat pengampunan oleh darah-Nya yang kudus.
Aku, Marius, mengalami pembaharuan iman di Kamis Putih ini. Setelah sakramen Maha Kudus diarak keliling gereja seusai misa, aku berlutut dan berdoa. Kugamit lengan Raras dan mengajaknya untuk maju ke depan. Berdua kami mengikuti ibadat Tuguran dengan khidmat.
Kali ini, aku berjanji tidak akan tertidur lagi.
***

Komentar
Posting Komentar