Jangan Ngambek, Dong !

Cerpen anak edisi BEDTIME STORY. Diterbitkan di Majalah TODDIE Surabaya, bulan Agustus 2011.
Request dari my friend, Yovita.Enjoy ya :) 

Ilustrasi oleh Diven Soegondo.

Pagi yang cerah di Negeri Dongeng. Matahari tersenyum manis. Dia memandang dunia di bawahnya sambil melambaikan tangan. Semua orang nampak riang. Anak-anak berlari di bawah sinar matahari. Pasar penuh oleh ibu-ibu yang sedang belanja. Bahkan sekolah ramai oleh sorakan murid-murid yang sedang senam pagi.

Tapi, ada satu yang tidak bahagia. Matahari bingung. Kenapa ya, Rumah nomor delapan malah cemberut? Rumah itu mengerutkan dahinya, sampai jendelanya melengkung dan pintunya ikut melendut.

“Selamat pagi, Rumah,” sapa Matahari ramah. “Hari yang cerah, bukan?”

“Nggak.” Rumah menjawab dengan cuek. “Aku lagi ngambek!”

Matahari melompat kaget. “Ngambek??” Digaruknya kepala pelan-pelan. “Memang ada apa?”

Mulailah Rumah bercerita. Dulu Ibu dan Bapak Kelinci membangun Rumah dengan penuh cinta. Rumah benar-benar bahagia. Dia dirawat. Tiap hari Ibu Kelinci menyapu lantainya, menggosok pegangan pintu hingga mengkilat. Bapak Kelinci juga rajin memperbaiki atap, juga membersihkan cerobong asap.

Hingga lahirlah Alpha dan Bubu, anak kelinci kembar yang nakal. Sejak saat itu, Rumah tidak pernah bersih. Alpha dan Bubu selalu menumpahkan makanan di mana-mana. Lantai selalu kotor. Dinding Rumah penuh dengan coret-coret. Bubu sering sekali menggores-gores pintu dengan gunting. Sedangkan Alpha suka menggigiti kawat nyamuk sampai bolong.

“Pokoknya aku mau ngambek!” Rumah berkata tegas. “Kalau mereka pulang, tidak akan aku bukakan pintu.”

Matahari berusaha membujuk Rumah, tapi tidak ada gunanya. Pagi berganti sore dan Bulan mulai naik. Ketika Matahari bersembunyi di balik awan, para penghuni mulai berdatangan. Bapak Kelinci muncul dengan mobil merahnya dan Ibu Kelinci berjalan kaki sambil menggandeng Alpha dan Bubu.

Tapi mereka tidak bisa masuk, karena Rumah benar-benar ngambek. Pintunya ditutup rapat-rapat. Bapak Kelinci berusaha masuk lewat jendela, tapi Rumah ternyata juga mengunci jendela dan lubang angin. Tetangga berkumpul di halaman, menonton Bapak Kelinci yang sedang berusaha mendobrak pintu dan Ibu Kelinci sibuk menenangkan anak-anak yang menangis.

“Ayolah, Rumah...” Ibu Kelinci membujuk. “Masa kamu tega sama kami?”

Rumah malah melengos. Hingga akhirnya Bapak Kelinci marah, lalu mengajak semua menginap di rumah Pak Beruang.

Tinggallah Rumah sendirian. Hari menjadi malam dan gelap. Rumah bingung, karena tombol lampu ada di dalam. Biasanya Ibu Kelinci yang selalu menyalakan lampu tiap jam enam tepat. Suasana sepi dan Rumah mulai bosan.

“Biasanya selalu ramai,” keluhnya. ”Biasanya Alpha dan Bubu cerewet bermain. Bapak Kelinci mengobrol dengan Ibu Kelinci sambil menonton televisi.”

Sayup-sayup ia mendengar keluarga Beruang sedang bergurau dengan keluarga Kelinci. Riang sekali.

“Aku kangen,” ucapnya pelan. Dia mulai menangis. “Aku menyesal ngambek. Ternyata sendirian itu nggak enak.” Rumah mulai tersedu-sedu. “Besok pagi kalau mereka datang, aku mau minta maaf. Pintu akan kubuka lebar-lebar, supaya mereka bisa masuk.”

Pagi hari datang dan Matahari muncul. Keluarga Kelinci kembali berkumpul di depan pintu Rumah. Bapak Kelinci sudah menyuruh istrinya siap-siap. Kalau Rumah masih ngambek juga, mereka harus mencari rumah baru.

Tapi ternyata Rumah menyambut mereka dengan senyum, lalu membuka pintu lebar-lebar.

“Maafkan aku ya. Aku janji. Aku tidak akan ngambek lagi,” ucapnya perlahan.
Alpha dan Bubu berteriak kesenangan, lalu berlari masuk. Bapak dan Ibu Kelinci juga bersorak kegirangan.

“Terima kasih ya, Rumah.” Ibu Kelinci mengelus pintu sambil tersenyum. “Entah kamu sadar atau tidak. Sehari tanpa kamu, rasanya tidak lengkap.”

“Kamu harus janji juga,” kata Bapak Kelinci. “Kalau ada apa-apa, coba bicarakan baik-baik. Ngambek itu nggak bagus, karena kami semua bingung. Mana kami tahu masalahnya kalau kamu nggak bilang.”

Rumah tersenyum sambil mengangguk. Sambil mengamati keluarga Kelinci yang bergembira, Rumah berjanji untuk tidak ngambek lagi.

***

Komentar