Kisah Biji Gandum




"Kalau misalnya umurmu tinggal sebulan lagi, apa yang akan kamu lakukan?"

Aku mengangkat kepala dari nasi goreng yang kumakan. Selama satu menit, aku cuma diam, menatap temanku yang duduk santai dengan sendok di tangan. Dengan kemeja yang pas di badan, jas putih bersih, dan name tag di leher, Dokter Jonas Wirawan terlihat sedang banyak pikiran.

"Kenapa mendadak ngomongin soal mati, sih?"

Jonas melempar pandangan sekilas ke sekeliling. Kantin rumah sakit penuh sesak dengan lautan manusia. Sebagian besar penunggu pasien, kaum sehat yang bermuka muram dan beraura letih. Hanya kami berdua yang 'agak' ceria. Dua dokter muda, sahabat karib sejak kecil. Aku dokter gigi. Jonas dokter umum. Kami  sama-sama memiliki keinginan untuk menolong orang, meski di bidang yang berbeda.

"Itu Pak Bambang dan istrinya, Bu Yeni." Ia menunjuk dengan dagunya. Sekitar dua meter dari tempat kita duduk, seorang laki-laki tua berwajah pucat dipapah untuk duduk. "Gagal ginjal. Sudah dua tahun bolak-balik ke sini."

"Terus? Umurnya tinggal sebulan?"

"Haha, bukan!" Ia tertawa. "Tiap kali bertemu, selalu Pak Bambang nggak mau cuci darah. menurutnya lebih baik mati, daripada terus-menerus bolak-balik Rumah Sakit."

"Well, tugasmu sebagai dokter untuk menghiburnya, kawan," kataku. "Tapi jangan biarkan semua pikiran jelek itu masuk ke otakmu. Aduh, baru tugas sebulan di UGD saja sudah ketularan stress."

Entah malu atau lelah, Jonas melepas kacamatanya dan mengusap wajah.

"Kau boleh menganggapku gila, Bill." ujarnya lagi."Percayalah, saatku sudah dekat. Aku cuma punya waktu sampai akhir bulan--"

"Ngawur!" ujarku separuh berteriak. "Udah, ah. Jangan ngomong soal mati melulu."

Beberapa orang melangkah ke kantin. Jonas melambaikan tangan, menyapa. Memang kantin ini letaknya dekat dengan ruang Emergency, tempatnya bertugas. Jadi orang-orang yang datang, nyaris semua dikenalnya.

"Itu Dokter Widya. Mantan dokter bedah."  Jonas menunjuk. "Luar biasa pokoknya. sampai dia kena suatu penyakit dan nyaris buta."

"Sekarang masih kerja di sini?"

"Nggak bisa, dong. Dia melihat saja sudah susah, apalagi disuruh bedah orang! Bisa motong kemana-mana nanti."

Percakapan kami terganggu. Suami dokter Widya melambaikan tangan ke Jonas. Jonas kemudian bangkit dari kursinya, dan datang ke meja mereka. menit kemudian dia kembali ke meja kami, dan duduk. Diam. Seolah berpikir.

"Bill, kalau aku mati nanti..." Suaranya mulai lagi. "Kamu jangan nangis, ya!"

"Ya ampun, Jon!"

"Dengar dulu!" Ia menghembuskan napas. Kali ini mukanya sangat serius. "Kalau aku mati nanti, aku tidak akan menyesal. Aku cuma berharap kalau hidupku sudah kugunakan dengan baik."

"Sudah jadi dokter, ya cukup lah. Dokter kan menolong orang."

"Belum, Bill. Belum cukup."

Aku membuka mulut,  hendak mendebatnya, tapi urung. Melihat wajahnya yang segitu serius, aku yakin, ada sesuatu di pikirannya.

Temanku, Jonas menyembunyikan sesuatu.

***

Tepat dua puluh delapan hari kemudian, Jonas meninggal.

Sebuah mobil van kehilangan kontrol dan menerjang trotoar tepat di depan rumah sakit.  Saat itu pukul enam pagi dan shift Jonas baru saja selesai. Mobil itu menerjang pinggangnya, mematahkan tulang panggulnya. Jonas terpental sejauh empat meter, terpelanting ke arah sisi jalan. Kepalanya membentur trotoar dan meninggal seketika.

Aku duduk di kapel St. Joseph, yang terletak satu kompleks dengan rumah sakit. Hatiku tenggelam dalam kegelapan, senada dengan keremangan suasana kapel yang muram. Aku menyaksikan kedua orang tuanya menangis tersedu-sedu. Kepergian Jonas begitu mendadak. Jonas anak satu-satunya, sama seperti aku.

Kesedihan mereka membuatku tidak tahan. Aku melorot di kursiku, menatap sepatuku dengan lesu.

Tuhanku, betapa Engkau tidak adil. Ia masih muda, tampan, dan punya masa depan cerah. Kenapa Kau tega memanggilnya di usia muda??

Menjelang misa tutup peti, kapel penuh sesak oleh orang-orang yang hendak memberikan penghormatan terakhir. Nyaris seluruh rumah sakit hadir di sana. Aku tidak tahu kalau Jonas segitu populer. Mungkinkah karena wajahnya yang ganteng, atau otaknya yang super pintar. Untuk orang yang baru dua bulan bekerja, ini termasuk luar biasa.

Namun Allah menjawab pertanyaanku saat misa berakhir. Aku melihat Dokter Widya, Si Ahli bedah buta itu maju ke depan dengan perban melingkar di wajahnya.  Suaminya yang berambut putih itu berjalan di belakangnya, menuntunnya ke arah peti.  Beberapa orang di belakang mereka kemudian kukenali sebagai orang-orang yang sering datang ke rumah sakit, dalam keadaan di kursi roda, dengan selang infus masih menancap di pergelangan tangan.

Sekarang aku mengerti.

Sebelum Jonas meninggal, ia telah menandatangani perjanjian untuk mendonorkan organ tubuhnya pada orang-orang yang membutuhkan. Meski ia telah meninggalkan dunia ini, bagian dirinya tetap hidup di tubuh orang-orang yang ia tolong.

Jantungnya berdetak di tubuh Pak Francis. Matanya melihat dunia lewat korneanya yang diberikan ke Dokter Widya. Dua ginjalnya ada di tubuh dua orang yang berbeda. Semua menerima donor tepat di hari ketika ia meninggal.

Allah mengatur kejadian itu. Subuh pagi di mana sebuah mobil van melaju tak terkendali di depan rumah sakit. Satu orang meninggal, empat orang terselamatkan.

Biji gandum yang jatuh ke tanah akan mati.  Namun kemudian akan menghasilkan banyak buah.

Aku tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Membayangkan sahabatku, Jonas melangkah ke gerbang surga dengan tangan terentang. Mungkin saat ini dia berbicara pada Yesus, dan mengatakan dengan bangga bagaimana ia telah menggunakan hidupnya dengan penuh. Setelah ia pergi, bagian dari dirinya berbuah dan menjadi berkat untuk orang lain.

***

Komentar