Tutur katanya halus, sentuhannya lembut, rambutnya keriting. Sekelilingnya adalah kombinasi warna-warna pastel : merah muda, kuning ala anak ayam, oranye atau hijau toska.
Orang menjulukinya Ibu Kembang Gula, semata-mata karena sikapnya yang manis dan keibuan. Oh, betapa banyak anak-anak yang suka rela mampir ke rumahnya, cuma untuk mencicipi secangkir teh dan sepotong kue. Tidak ada yang tahu berapa usia Ibu. Ada yang bilang delapan puluh lima. Ada juga yang bilang sembilan puluh. Yang jelas, ia tinggal sendirian ditemani seorang pembantu.
'Umur itu cuma angka," ujarnya ketika ditanya kenapa beliau tidak mau ikut anak saja. "Selama masih bisa beraktivitas, jangan berhenti untuk mewartakan kabar gembira."
Ah, Gulali... Wahai Gulali! Sungguh ia manis dan mempesona.
Beliau tidak keberatan dipanggil Ibu Kembang Gula, dan selalu bangga dipanggil demikian. Beberapa tetangga ada memanggilnya Oma Gulali. Intinya, siapapun akan setuju bahwa celotehnya mampu melumerkan hati yang terdingin. Ada yang sampai bilang kalau Datuk Maringgih mampir ke rumahnya, mungkin ia akan tersenyum ketika melangkah pulang.
Aku ingat ketika datang ke rumah Ibu Kembang Gula minggu lalu, tepat sehari sebelum Minggu Palma. Ibu sering meminta bantuanku untuk memperbaiki pernak-pernik rumah tangga yang rusak. Maklum, kompleks ini didominasi pensiunan dan aku satu-satunya anak muda di sini.
"Jonathan," ujarnya. "Kenapa kamu nggak menikah?"
"Maksud Ibu?"
"Yah, kamu ganteng, usia mapan. Lulusan luar negeri pula." ia berucap sambil menuangkan teh. "Masa sih nggak ada pacarnya?"
Aku tertawa sambil menerima cangkir bermotif bunga-bunga. Seisi meja penuh dengan toples berisi kue.
"Pacar ada, cuma belum kepingin kawin."
"Ah, mau tunggu umur berapa? Nanti ketuaan kalau punya anak."
"Aduh, Ibu.... Saya baru dua puluh delapan."
"Usia yang tepat untuk berkeluarga." Ia mengambil tempat duduk. "Anak sekarang kalau disuruh cari jodoh sendiri, malah lama kawinnya. Dulu waktu Ibu umur delapan belas tahun dijodohkan sama orang tua. Almarhum Bapak juga delapan belas. Masih muda, nggak tahu apa-apa." Ia menarik napas. Melirik ke arah nakas. Sebuah foto hitam putih ada di sana, sosoknya waktu muda dengan seorang lelaki.
"Bapak dulu ganteng. Pemain sepak bola. Jago banget kalau bikin gol."
Aku tidak kuasa membandingkan diriku dengan foto itu. Dibandingkan Almarhum, wajahku mungkin lebih mirip pemain ludruk. Apalagi dengan kacamata tebal yang kupakai.
"Kita nggak pakai pacaran. Orang dulu nggak kenal namanya naksir-naksir. Pokoknya dijodohkan orang tua, dan dia dari keluarga baik-baik. Lamaran diterima. Dua bulan kemudian menikah."
"Masih jaman dulu, sih ya." ucapku basa-basi.
"Tapi cinta sejati. Yah, harusnya seperti itu. Sekali jadi. Nggak pakai namanya patah hati, atau kayak sinetron sekarang, sampai nangis-nangis mau bunuh diri segala." Ia menyorongkan toples kue, menyuruhku mengambil. "Kamu harus makan banyak. Ini cuma kulit sama tulang. Kalau ditiup angin bisa terbang nanti."
Mau nggak mau, aku menurut.
"Cinta sejati itu hanya datang sekali saja. Dan kita akan tahu tanpa ragu." Ia menghela napas dan kembali matanya menerawang. "Bapak meninggal sudah lama, Jon. Sampai sekarang, Ibu masih suka sedih."
"Kapan Bapak meninggal, Bu?"
"Oh, waktu itu kamu masih TK." Ia tersenyum sambil merapikan meja dari remah-remah kue. "Kamu pasti tidak ingat. Waktu itu kamu sering main ke sini, sambil nontonin koleksi Jalak-nya dimandikan."
"Masih ingat, Bu. Kandangnya dijejer di depan."
"Iya, dulu punya sebelas ekor. Setelah Bapak nggak ada, mati satu per satu. Sisa tiga ekor dan buru-buru diberikan orang." Ia terdiam sejenak. "Kalau dipikir, binatang saja bisa berasa kehilangan. Jadi... Lumrah kalau Ibu juga kehilangan, betul kan?"
Aku mengulurkan tangan, mengelus lengannya yang keriput.
"Lumrah, kok."
"Minggu depan anak-anak Ibu datang. Ibu mau ajak mereka ke kuburan Bapak. Ah, sudah lama."
"Buat Ceng Beng?"
"Nggak. Buat Paskah." Kembali ia menerawang. "Ibu sungguh ingin ketemu Bapak. Pokoknya tidak nunggu Ceng Beng,... Paskah harus ketemu."
Suatu hal yang agak aneh buatku, meskipun aku tahu bahwa Ceng Beng tahun ini hanya berjarak lima hari setelah Paskah. Dan sungguh mati, aku tidak mendapat firasat apa-apa, sampai mendapat telpon lima hari setelahnya.
Tepat di Jumat Agung, ketika aku berlutut mencium salib di misa jam tiga siang, Ibu Kembang Gula meninggal dunia. Aku dan kedua orang tuaku mengunjungi rumah duka tempat beliau disemayamkan dan mendapati kumpulan keluarga yang menangis. Bukan, bukan tangis duka. Lebih ke tangis melepaskan. Usia beliau ternyata sembilan puluh tiga tahun. Sebuah angka yang menakjubkan untuk masa sekarang.
Aku duduk di sudut, menyepi. Membiarkan kedua orang tuaku bercengkerama dengan keluarga Ibu Kembang Gula. Besok pagi, tepat di hari Paskah, beliau akan dikebumikan di sebelah suaminya tercinta.
Ibu Gulali-ku sayang, Ibu Bernadette.... Akhirnya keinginanmu tercapai. Akhirnya di Paskah ini, Ibu bisa menyambangi Bapak. Bersatu dengan Bapak.
Cinta sejati selayaknya bersama. Bukankah begitu?

BalasHapusMust be someone interesting Ndri. Who is she?? Must be someone special.
Tulisan ini dibuat sehari setelah Omaku dikubur. Omaku meninggal di usia 93 tahun dan kehidupannya sungguh memberi inspirasi.
HapusKusertakan link tulisan yang kubuat ketika di pemakaman beliau, ya :)
http://mikaylafernanda.blogspot.com/2018/04/final-goodbye.html?m=1