Kalimat itu muncul pertama kali ketika aku berumur lima tahun. Aku sedang duduk di teras sambil bermain boneka dengan Mama di sampingku. Sedangkan Papa duduk di kursi dengan secangkir kopi di tangan. Keluarga kami selalu menghabiskan hari dengan menikmati langit malam.
“Ayo, Nak. Pilih satu bintang.”
Tangan kecilku teracung, menunjuk bintang yang paling terang berkilau.
Mama tersenyum dan membelai rambutku.
“Kita namakan itu Starla, boleh?”
Aku mengangguk. Aku
sungguh masih lugu. Yang jelas, sejak saat itu aku selalu mencari Starla tiap
merasa sedih. Mencari Starla ketika dimarahi Papa. Mencari Starla ketika jatuh dari sepeda. Mencari Starla ketika sakit
gigi.
Bahkan Starla adalah
hal pertama yang kucari ketika pulang dari pemakaman.
Ya, umurku sembilan
tahun ketika Mama meninggal. Gagal ginjal, kata Papa. Aku berdiri di balkon
kamarku, menatap langit dengan airmata membasahi pipi. Membayangkan saat-saat
terakhir bersama Mama, ketika aku memegang tangannya di rumah sakit.
“Kalau Mama nggak ada
nanti—“ ujarnya dari ranjang rumah sakit. “Janji jangan sedih, ya.”
“Jangan ngomong soal
mati!” Aku menangis. “Mama harus sembuh!”
“Kalau Mellisa kangen
Mama—“ ujarnya bersikeras. Kulihat ia juga menitikkan airmata.
“Sampaikan salammu pada Starla, ya. Mama pasti dengar.”
Malam itu dan malam
berikutnya, aku melakukan tindakan bodoh itu. Menatap langit malam sambil
menangis. Berteriak pada Starla untuk menyampaikan salamku, supaya Mama bisa
datang menengok aku.
Namun tidak ada Mama. Tidak ada jawaban dari Starla.
Dan aku menjadi cukup
besar untuk sadar kalau semua itu bohong.
Di hari itu juga, aku
merasa malu dan tertipu. Aku lelah berharap. Muncul gagasan dalam benakku
bahwa hidup tidak berguna.
&&&&
Aku membenamkan diri
dalam tumpukan komik dan game. Kamarku layaknya sebuah kepompong yang
membungkus aku dari dunia luar. Ini duniaku. Tempatku seharusnya berada, terisolir dari realita yang semakin asing.
Semua orang yang
datang ke rumah pasti menyuruh Papa bersabar. Mellisa bukan anak kecil lagi,
begitu kata mereka. Anak jaman sekarang lumrah sedikit melawan. Statusku
seorang anti sosial.
Di masa remajaku yang
mendung, aku mantap untuk bunuh diri.
Kuambil obat darah
tinggi Papa dari lemari, berlembar-lembar Panadol, dan sisa obat ginjal Mama
yang sudah kadaluarsa. Dengan sekali genggam, kutaburkan semua ke mulut, dan
mendorongnya dengan segelas air. Kemudian aku membaringkan diri di tempat tidur
dan melemparkan pandangan ke arah langit.
Penglihatanku
berkaca-kaca. Perlahan dan pasti aku menyapa bintang di antara isak.
“Starla sialan!
Bintang jelek yang tidak berguna! Kamu nggak laku lagi! Sebentar lagi aku akan bertemu
Mama. Sebentar lagi aku bisa menyampaikan salamku tanpa harus melaluimu!”
***
***
Aku terbangun menggigil kedinginan. Sekelilingku gelap. Biru tua. Seperti langit malam yang kelam. Aku tersentak. Tubuhku mengapung di udara kosong tanpa alas.
Sebuah sosok datang, putih terang dengan sepercik nuansa emas. Ia mengapung di udara, ditopang oleh ribuan partikel keemasan. Seketika ia mendekat, debu terang itu berpindah ke sekelilingku. Menopang tubuhku yang semula melayang tanpa bobot.
Sontak aku menyentakkan kaki. Deretan bulir kuning terang itu berubah warna menjadi pendaran biru. Mereka bagaikan mahluk hidup yang memegang kaki dan tanganku, memaksaku untuk bangkit berdiri.
"Satu pertanyaan untukmu, anak manis." Sosok itu kini berubah menjadi seorang wanita. "Kenapa kamu pengin mati?"
Gadis itu cantik. Bersinar seperti rembulan. Rambutnya panjang berwarna putih, bercahaya terang. Ia memakai gaun yang menyala, seolah ditaburi jutaan bintang.
"Kamu siapa?" tanyaku. Otakku berputar, mencari jawaban. Mungkin aku memang benar sudah mati dan ini adalah penghakiman terakhir.
"Ada yang menyebutku A315. Ada juga yang menyebutku Anastasius, Atanasia, Allegrata, dan banyak nama lain. Tergantung di daerah mana mereka berada." Gadis itu memberi tanda agar aku mendekat. Bagai magnet, deretan partikel yang meliputiku membawaku bergerak maju. "Ini pertanyaan yang aneh, Mel. Kamu berbicara denganku bertahun-tahun. Apa benar kau tidak kenal siapa aku?"
Aku memicingkan mata.
"Kamu.... Starla?"
Ia mendengus. "Akhirnya..." Ia menarik tanganku, menggenggamnya erat. "Oke, ayo sekarang kita berangkat."
"Eh?? Mau kemana??"
Starla menarikku. "Kamu mau ketemu Mama, kan?"
Aku terperanjat.
"Kamu pengin mati karena mau ketemu Mama, kan?"
Perlahan, aku mengangguk.
"Yakin, ya? Bagus, deh!" Ia melaju dengan cepat, menerpa kegelapan. Di sekelilingku berubah menjadi garis-garis kekuningan, seiring aku ikut melaju bersamanya.
"Eh! Tunggu!"
Aku memejamkan mata, berteriak takut. Sekelilingku berputar. Angin menerpa, menerbangkan kami entah kemana. Kalau memang ini dunia setelah mati, sungguhlah aneh.
"Kalau kamu benar malaikat pencabut nyawa, please jangan siksa aku!"
"Tutup mulutmu sampai kita mendarat!" Gadis itu berteriak. "Dasar anak bandel! Sudah kubilang aku akan membawamu melihat Mamamu! Aku malas mendengarmu merengek melulu!"
***
Ia membawaku ke sebuah dataran tinggi yang gersang. Tidak ada apapun di situ kecuali bebatuan. Di ujung cakrawala aku bisa melihat sinar matahari yang kekuningan, berbatasan dengan langit malam yang gelap. Percikan ungu dan putih ada di sana. Deretan bintang membentuk selendang cantik di udara.
"Firdaus ada di sana, Mel." Starla menunjuk. "Di utara."
Sekeliling kaki bukit dikelilingi sungai. Aku memicingkan mata, berusaha mencari sosok yang kurindukan.
Di seberang sungai, terletak bukit yang lain. Berlapis-lapis, membentuk setengah lingkaran konsentris ke hulu sungai. Deretan terdekat ke sungai serupa padang rumput hijau yang sejuk. banyak orang ada di sana, duduk-duduk di atas hamparan hijau dan bercengkerama.
"Paling dekat dengan sungai adalah tempat para remaja iman." Starla menjelaskan. "Mereka tahu akan firman dan mengimani Allah. Hanya saja masih belum kuat dalam menjalankan kebaikan dalam hidup, dan sering terjerumus dalam cobaan."
Aku mengernyit. "Bukankah semua orang begitu? Kita manusia biasa. Pasti lumrah kalau berbuat salah sedikit."
"Oh, memang. Disitulah kegunaan doa dan ibadah. Allah memberikan senjata iman pada setiap orang, supaya semua bisa bertahan melawan tipu muslihat iblis. Karena kekuatan daging itu lemah, dan tidak akan sanggup menghadapi pengulu-penghulu dunia yang gelap..." Starla mendesah. "Namun sayangnya tidak semua orang bersiap siaga menghadapi ini. Tidak semua orang mempersenjatai dirinya dengan pedang Roh, yaitu dengan firman Tuhan."
Ucapan Starla menusuk ulu hatiku. Aku mencari-cari Mama di antara para orang berjubah putih di sana, namun tidak ada.
"Kau lihat lebih ke atas, makin hijau dan teduh." Starla menunjuk. "Mulai ada rumpun bunga muncul. Dan satu dua pohon berbatang, meski tidak tinggi."
Aku mengangguk.
"Di sana adalah tempat untuk para kaum kontemplatif. Orang-orang yang kerap merenungkan imannya. Mereka yang disebut kaum bijak oleh orang-orang di duniamu, karena intelektual mereka yang di atas rata-rata. Para penasihat, begitulah."
"Karena itu mereka mendapat tempat yang lebih baik? Atau karena mereka nggak suka dekat-dekat air?" ucapku penasaran. kelihatannya memang lebih cantik daripada deretan rumput di pinggir sungai.
"Kurang lebih begitu." Starla melingkarkan lengannya di bahuku. "Inilah pentingnya untuk membaca kitab suci. Sudah jelas, semakin sering membaca dan merenungkan firman, kualitas hidup kerohanian seseorang akan menjadi lebih baik."
Aku melayangkan pandanganku lebih jauh lagi, ke bukit yang tertinggi. Di sana terlihat penuh dengan pohon buah dan bunga, jauh lebih rimbun daripada yang lain. Orang-orang di tempat itu terlihat tertawa, menari-nari, dan bercakap-cakap gembira. Raut wajah mereka jauh lebih damai.
"Firdaus ketiga untuk para pejuang iman. Pelaku iman, pengharapan, dan kasih. Tiga hal itu adalah esensi kehidupan orang beriman."
Kupicingkan mataku, menelusuri orang-orang itu satu per satu, mulai dari deretan dekat sungai hingga teratas, mencari Mama. Aku mulai agak panik. Mama tidak kutemukan.
"Sekarang, kau tanyakan pada dirimu sendiri. Bagaimana kehidupan Mamamu? Apakah Mamamu termasuk kaum bijak? Ataukah kaum goyah iman? Atau mungkin para pejuang?" Ia menatapku erat-erat. "Atau mungkin Mamamu nggak ada di sini. Ada di tempat lain, mungkin?"
"Starla... jangan main-main."
"Bintang tidak pernah main-main, Mel. Yang jelas, aku sudah melanggar banyak aturan, dengan mengajakmu ke puncak gunung Purgatorio. Kaum yang masih hidup seharusnya tidak boleh ke sini--"
"Jadi ngapain kamu ngajak aku, eh?? Karena aku sudah mati, kamu mau bilang gitu??"
"Bukan. Bukan!" Ia memekik. "Aku nggak tega mendengar doa Mamamu!!"
Aku terdiam. Mataku kini tertuju di antara kakiku. Dadaku naik turun menahan tangis.
"Mellisa..." Starla menyentuh daguku, memaksaku menatap wajahnya yang bersinar. "Setiap orang yang sudah meninggal diijinkan untuk mengetahui apa yang terjadi di dunia, terhadap keluarganya. Mereka juga diijinkan untuk menghaturkan doa demi keluarga yang mereka tinggalkan. Dan Mamamu setiap hari berdoa... untuk kamu!"
Kerongkonganku tercekat.
"Mama kamu berdoa agar kamu menjadi anak yang baik, anak yang beriman, anak yang berbakti pada orang tua. Ia memohon pada Allah agar kesedihanmu bisa dihapuskan, supaya kepahitan batinmu bisa dilenyapkan." ucapnya sambil kini meletakkan kedua tangan di bahuku. "Doa penuh iman, pengharapan dan kasih. Doa yang diucapkan tanpa terputus." Ia terdiam, seolah meresapi kata-kata itu satu per satu. "Doa seorang Ibu terhadap anaknya begitu berkuasa. Sama seperti doa Bunda Maria untuk semua anak-anaknya di dunia. Nah... Menurutmu, di mana Mamamu?"
Tanganku kini mengacung, menunjuk ke arah bukit. Nun jauh di sana, seorang wanita bersimpuh dengan tangan terkatup. Sayup-sayup, aku mendengar suara Mama mengucap doa Salam Maria.
"Santa Maria, Bunda Allah. Doakanlah kami yang berdosa ini." Bibirku ikut bergumam. "Sekarang dan waktu kami mati."
Ya, ampun...
Aku terduduk lemas. Delapan tahun lamanya Mama mendoakan aku dari Surga tanpa terputus. Dan aku... Apa yang kulakukan selain bersungut-sungut dan meratapi hidup? Seolah-olah aku orang tersial di dunia.
Betapa bodohnya aku!
"Karena itu, kamu belum boleh mati, Mel." Starla berlutut di sampingku. "Kamu harus kembali ke dunia, berdamai dengan Papamu. berusahalah berdamai dengan kesedihanmu. Ingat, jika kau sedih, tataplah bintang di langit dan ucapkan salammu. Mamamu ada di sana, mendengarkan setiap suku kata yang kau ucapkan. Dan percayalah.... Ia akan mendoakanmu."
Aku mengangguk. "Bawa aku kembali ke rumahku, Starla." ucapku pasti. "Aku mau ketemu Papa. Aku mau minta maaf padanya, kalau aku sudah begitu membuat Papa susah. Dan... Aku janji akan berubah."
Starla tersenyum. Perlahan, pandanganku mengabur. Dan gadis itu kembali menjadi serpihan partikel emas di udara, meliputi tubuhku, mengangkatku tinggi ke kegelapan. Kemudian mengembalikanku ke dunia nyata.
Aku terbangun di kamarku, basah bermandi keringat. Malam masih larut. Dari jendela kamarku, aku melihat bintang-bintang di angkasa.
Perlahan, aku tersenyum. Satu bintang paling cemerlang berkelip-kelip. Kuucapkan salamku padanya. Aku tahu Starla akan menyampaikan cintaku pada Mama.
***

Komentar
Posting Komentar