Aku duduk di sudut, mengamati empat orang anakku mengatur tata ruang. Televisi menyala, menampilkan film kartun. Bella, cucuku yang berumur lima tahun berdiri dan bergoyang-goyang seiring lagu 'Let It Go'.
Dari atas kursi goyang ini, aku biasa menikmati sore hari sambil menonton siaran televisi. Nyaris setiap hari, ditemani dengan Ipah, asisten rumah tangga yang sudah mengikutiku sejak dulu.
Rumah ini sudah tua. Gordennya berwarna hijau pudar yang sudah nyaris sebulan tidak dicuci. Deretan pigura di bufet masih dengan tatanan yang sama, penuh dengan foto anak-anak sejak masa kecil, dan cucu-cucu dengan senyum manis mereka. Di dinding sisi meja makan terpampang foto ukuran dua meter, ketika aku dan Ben merayakan ulang tahun pernikahan lima belas tahun yang lalu.
David, anakku yang bungsu selalu membujuk agar rumah ini dijual saja. Mama biar pindah bersamaku, begitu katanya. Ah, aku tidak mau merepotkan. Toh aku masih berasa sanggup mengurus rumah ini, dan ada si Ipah yang menemani.
Aku menghapus airmata dari pipiku. Hari ini rumahku terasa hangat.
Empat orang anak dan lima cucu. Ruang tamu kini penuh sesak. Aku melemparkan pandangan seluas-luasnya. Arya, si sulung melangkah masuk dengan masih menyeret koper. Ia datang dari Amerika, khusus untuk hari ini. Aku tersenyum. Setahun tidak bertemu. Ia sedikit tambah gemuk. Rambutnya sudah separuh putih dan dibiarkan agak panjang. Aku ingin sekali menegurnya untuk potong rambut. Sudah hampir lima puluh, kok masih senang berambut gondrong.
Aku menjulurkan tangan ke laci, hendak mengambil gunting. Sebuah tangan lain menyentuh lenganku, mencegah.
"Jangan, Mam. Biar saja."
Suamiku, Ben merangkul pundakku. Mengajak untuk kembali duduk.
"Nikmati hari ini," ujarnya. "Nikmatilah selagi bisa."
Laras, anakku yang kedua berargumen dengan Kurnia, anakku yang ketiga, mengenai di mana meletakkan karangan bunga. Tiga orang cucuku menata kursi dan menempatkan meja di samping pintu masuk. Meja itu kelak akan menjadi altar. Televisi kini mati, meninggalkan tangis protes Bella. Siska, mantuku tergopoh-gopoh datang, menggendong anaknya, membujuknya dengan boneka.
Aku menarik napas dalam-dalam, menyesapi momen ini dengan sangat. Kenangan berhamburan turun : Ketika anak-anakku lahir, tangis pertama mereka, ketika aku menuntun tangan mereka ke sekolah. Dalam benakku muncul dentang lonceng gereja, ketika Ben mengantar Laras, putriku satu-satunya ke depan altar. Lalu ketika cucu-cucuku lahir...
Rangkaian bunga Mawar putih dan Lili diletakkan di atas meja. Lilin ada di kiri -kanan, dan salib di tengah. Piala perjamuan dan anggur disiapkan di atas nampan berwarna emas.
Ruangan penuh dengan para tetangga dan teman gereja. Bangku-bangku mulai penuh terisi. Tak lama kemudian, Roland, mantuku melangkah masuk dengan seorang pastor. Ibadat pun dimulai.
"Kita berkumpul di sini untuk mengenang Ibu Bernadette yang empat puluh hari yang lalu dipanggil Tuhan."
Ketika itu juga, airmataku membanjir. Jatuh ke lantai dan hilang bagaikan uap. Aku memandangi ubin di antara kakiku yang transparan. Ben ada di sampingku, diam tak bicara. Aku tahu ia akan mendampingiku hingga ibadat selesai.
Perhelatanku di dunia selesai sudah. Batinku bergejolak, memikirkan anak-anakku satu per satu. Akankah mereka rukun? Siapakah yang akan menengahi jika ada percekcokan. Ataukah mereka akan meneruskan hidup sendiri-sendiri, dan lupa bersilaturahmi? Selama ini, aku yang selalu bersikeras untuk berkumpul jika ada yang ulang tahun atau peristiwa-peristiwa khusus. Jika aku tiada, siapa yang akan mengingatkan mereka? Siapa yang akan mempersatukan mereka?
"Kau tahu, sayang." Ben berucap, seolah mengetahui kekhawatiranku. "Lima belas tahun yang lalu, ketika saatku tiba, aku sungguh khawatir. Anak-anak masih kecil. Aku memikirkan bagaimana hidup mereka tanpa ayah. Dan ternyata, kekhawatiranku tidak beralasan." Ia terhenti, menatapku erat-erat. "Kamu sudah membesarkan mereka dengan baik."
Aku tersenyum seraya menyandarkan kepalaku ke bahunya. "Tapi sekarang aku juga tidak ada. Ya, semoga mereka baik-baik saja."
"Tidak ada yang kehidupannya sia-sia. Semua anak kita tumbuh menjadi orang baik." Ben merangkulku erat. "Yang bisa kita lakukan adalah mendoakan mereka. Sisanya... Imani bahwa semua akan berjalan lancar, bersamaan dengan penyertaan Allah."
Ibadat mencapai pertengahan. Salam damai menggema. Kulihat anak-cucu saling berpelukan. Mesra dan penuh kasih. Aku menarik napas panjang. Ya, semua akan baik-baik saja.
Kugenggam tangan suamiku. Kedamaian menyelimuti batinku seraya aku menatap wajah keluargaku satu per satu. Anak Domba Allah menggaung memenuhi ruangan. Sesaat lagi komuni akan dibagikan.
"Saatnya untuk pergi, sayang." Suara Ben terdengar lembut.
Perlahan dan pasti, aku mengangguk. Ya, memang sudah waktunya.
***
Di baris depan, empat orang menundukkan kepala, berdoa bagi Ibu mereka dengan air mata meluncur di pipi. Kini dan kelak, bersamaan dengan doa kedua orang tua mereka yang sudah tiada, masa depan mereka terbentang penuh iman.
***
In memoriam, Oma Bernadette yang meninggal 40 hari yang lalu.
I miss you terribly, Oma. I love you...
***
Klik untuk kisah berikutnya
http://mikaylafernanda.blogspot.com/2018/04/ibu-kembang-gula.html?m=1
***
Klik untuk kisah berikutnya
http://mikaylafernanda.blogspot.com/2018/04/ibu-kembang-gula.html?m=1

Komentar
Posting Komentar