Mirna mendaratkan diri di kursi, dengan masih mengenakan jaket musim gugur. Tasnya digeletakkan begitu saja di lantai. Di tangannya terdapat tray dari karton, berisi dua gelas berlogo Starbucks. Aroma kopi menyebar di ruangan AC yang bernuansa putih.
"Aku berusaha secepatnya ke sini, Pa. Cuma memang sulit dapat tiket." Ia meletakkan cangkir kopi di meja, kemudian merapikan rambutnya yang tergerai. "Peak season bulan ini. Menyebalkan. Padahal aku terbang sendiri! Bayangkan kalau masih harus menenteng Bayu. Hmmph... bisa-bisa tahun depan baru sampai."
Dia terkekeh, menertawakan kesalahannya sendiri. Sudah sejak bulan lalu, Mama meminta Mirna pulang. Hanya saja, kesibukannya sebagai staf ahli sebuah lembaga ekonomi tidak memungkinkan ia untuk mengambil cuti.
"Anyway, Bayu titip salam. Katanya, meski sudah tidak sebagai menantu lagi, ia tetap menganggap Papa sebagai orang tua sendiri. Ya, gitu deh!" Mirna terhenti, melepaskan gelas kopi satunya dari tray, kemudian menyorongkan ke depan. "Nggak usah pakai gula, ya. Nanti Mama marah kalau ketahuan minum manis."
Dan ia terdiam sesaat. Menimbang-nimbang. Kemudian tangannya meraih sachet gula, menyobeknya, menuangkan ke gelas.
"Mama lagi nggak ada. Satu sachet saja ya! Selama nggak cek darah hari ini, atau besok, nggak akan ketahuan." ujarnya sambil mengedipkan sebelah mata. "Aku nggak akan bilang siapa-siapa, Pa. Janji!"
Keheningan menyebar seiring senja mulai hadir. Temaram matahari terbenam menerpa dari jendela yang terbuka. Suara langkah kaki terdengar dari beberapa pengunjung lain. Samar-samar terdengar bunyi kursi berderik dari ruangan sebelah, disusul dengan bunyi percakapan separuh berbisik. Mirna mengusap matanya yang lelah, berusaha untuk tetap fokus. Empat belas jam penerbangan dari London membuatnya jadi separuh zombie. Kembali ia menyeruput kopi dari paper cupnya sendiri, kafein extra shot yang terpaksa ia tenggak demi mempertahankan kesadaran.
Perlahan, Mirna menghela napas. Di depan Papa, selalu ia merasa canggung, apalagi sejak ia memutuskan untuk pisah. Masalah value dan keluarga selalu menjadi subyek hangat tiap kali ia pulang ke Jakarta. Hingga akhirnya ia merasa malas dan memilih menghindar.
"Tahu nggak, Pa." Ia berucap. Kali ini nada suaranya tidak selantang tadi. "Ada negosiasi dengan Microsoft. Proyek super besar! Ini kesempatan bagus buat aku. Buat karirku. Papa doakan, ya." Dan ia terhenti. "Kalau bisa gol, bonusku akan besar nih!"
Mirna menatap lurus ke depan, memandang wajah Papa yang sedang tersenyum. Papa tidak mengatakan apa-apa. Sorot matanya memandang teduh, dengan ketegasan tergambar di sana. Lesung pipit ada di sebelah kiri, dihiasi kumis tipis yang mulai berwarna abu-abu. Lesung pipit itu yang turun ke Mirna, warisan dari Papa yang paling kentara.
Mama bilang Mirna anak kesayangan Papa. Anak perempuan satu-satunya, anak yang paling manja. Sekaligus yang paling nakal. Papa selalu bilang kalau Mirna lincah, bukan nakal. Ah, entah benar atau tidak. yang jelas sekarang ia menjadi wanita sukses. Di usia empat puluh, reputasinya terkenal di mancanegara sebagai staff ahli. Nyaris ia tidak pernah berhenti bepergian, membawa seminar di mana-mana. Pasportnya penuh dengan visa berbagai negara, yang bahkan orang tuanya sendiri belum pernah kunjungi.
Kali ini, Mirna menunduk, menatap cangkir kopinya yang sudah tinggal separuh. Merenung. Memikirkan segala yang ia lakukan dan konsekwensinya. Apakah karirnya sepadan dengan apa yang ia dapati? Tanpa sadar ia mendesah.
"Aku tadi bilang ke atasanku kalau aku lelah. Sudah tiga tahun aku nggak pulang. Proyek Microsoft biar kuurus dari Indonesia. Kalau nggak bisa, ya suruh cari orang lain saja. Aku mau cuti agak panjang." ujarnya perlahan. "Lagipula Papa selalu bilang... Keluarga harus nomor satu. betul, kan?"
Perlahan tangannya terulur. Menyentuh pipi Papa, mengelusnya perlahan.
Dingin. Beku.
Karena memang sebuah foto tidak bisa menghasilkan panas.
Wajah Papa yang sedang tersenyum ada di sana, terpampang di balik lapisan kotak kaca di dinding. Dalam kotak itu, sama seperti kotak-kotak lainnya yang berderet di dinding, terdapat sebuah guci berwarna putih, diapit sebuah salib dan Rosario. Mirna merapatkan kedua tangan, membentuk lipatan seraya meletakkan siku di meja bertaplak putih. Rumah abu itu terasa makin dingin, seiring keheningan yang menusuk. Kepalanya kini tertunduk. Diapit dua buah lilin yang menyala, ia menguatkan perasaannya, menahan diri untuk tidak runtuh.
Di detik berikutnya, ia menyerah dan membiarkan emosinya mengambil alih.
"Maaf aku terlambat, Pa." ucapnya sambil membiarkan airmata membanjir. "Maafkan aku datang terlambat."
***
Hai! Terima kasih sudah menyempatkan baca.
Enjoy dengan kisah di atas? :)
Silahkan ke kisah berikutnya, ya!
http://mikaylafernanda.blogspot.com/2018/05/papanda-sudah-pulang.html?m=1

Sduhh Ndri. Sedih banget. Aku jadi inget Mamaku yg sakit. Thanks's for reminding
BalasHapusTerima kasih sudah baca, Bu. Suwun... salam buat Mamanya ya
Hapus