"Seorang pria masuk ke dalam bar bersama seorang iblis."
"Lalu?"
"Mereka langsung akrab. Pria itu bercerita mengenai dunia yang menyebalkan. Dunia yang makin lama makin mirip dengan neraka. Sedangkan si iblis curhat mengenai neraka yang makin lama jadi kurang seru karena makin mirip dunia nyata."
"Hahaha!"
Aku tertawa geli. Bir di tangan kananku bergoyang-goyang, lalu tumpah sebagian di meja. Laki-laki di depanku terkikik tanpa suara. Ini botol kedua yang kuminum, dan aku bisa merasakan alkohol mulai naik ke ubun-ubun.
"Cheers untuk dunia jahanam ini, sobat!" Aku mengangkat minumanku tinggi-tinggi. "Dunia dengan para manusia bangsat!!"
Kawan baruku menyodorkan gelasnya dan kami bersulang. Laki-laki perlente yang sama sekali aku tidak tahu nama, umur, atau di mana ia tinggal. Kami bertemu di sana, di bar itu. Dia dengan Scotch di tangan, aku dengan sebotol bir. Dua laki-laki anonim yang melepas lelah -- atau dalam kasusku, melarikan diri sejenak dari terpaan takdir-- dengan menikmati suasana dan minuman duniawi.
Namun kuyakin nasibku dan nasibnya berbeda. Aku mengamati orang itu seiring teguk bir yang meluncur ke tenggorokanku : Bajunya yang rapi dan licin, cincin batu mulia di jarinya, dan arloji mahal di pergelangan kanannya. Rasanya ia seorang eksekutif muda yang sukses, atau pebisnis yang tinggal di hotel ini. Yang jelas, dompetnya pasti lebih tebal dari aku.
Ah, mungkin ia bisa membayariku minum.
"Kau sering ke sini?" Aku bertanya basa-basi.
"Lumayan." Ia mengangkat gelasnya ke depan wajah, mengamat-amati isinya sebelum meneguk seluruhnya sekaligus. "Minimal dua kali seminggu."
"Kenapa aku tidak pernah melihatmu?"
Ia mengangkat gelasnya, memberi tanda ke bartender. Detik kemudian, sebotol Scotch sudah ada di meja.
"Aku ada dan melihatmu, meski kamu tidak melihat aku." ujarnya seraya mengamati bartender mengisi gelasnya lagi. "Tinggalkan di situ saja botolnya, thanks."
Alkohol meluncur ke mulut laki-laki itu tanpa berhenti, namun anehnya ia tetap tegak berdiri. Tidak ada satu pun tanda mabuk di rautnya.
"Dan aku tahu kamu kemari tiap hari, sobat." ujarnya tanpa mengalihkan pandangan dari gelasnya. "Kau duduk di kursi yang sama, menghadap bar. Kemudian memesan bir murahmu, membatasi diri minum cuma dua botol, lalu pergi tanpa meninggalkan tips untuk Yansen."
"Oh, masa?" Aku melirik ke arah bar. Bartender jahanam itu melempar senyum padaku. "Dia mengadu, ya?"
Tapi teman misteriusku tidak menjawab. Ia cuma duduk dengan diam, menuang satu shot Scotch lagi di gelasnya. Bartender membawa satu gelas kosong, dan tanpa kuminta, ia mulai menuangkan untukku.
"Nggak perlu peramal untuk bisa menilaimu," ucapnya sambil memberi tanda agar aku mengambil gelas itu dan minum. "Dari raut mukamu saja sudah kelihatan sengsara."
Entah kenapa, aku tertawa. Terbahak-bahak. Entah menertawakan tampangku yang kusut, atau melarikan diri dari rasa malu.
"Dewi Fortuna tidak memihakku tahun ini. Brengsek!" ujarku di antara derai tawa. "Percaya, deh! Aku sial melulu."
"Memangnya kamu bisnis apa?"
"Percetakan. Printing offset." Aku menyandarkan kepalaku ke meja. Kedua tanganku menggantung bebas, terjuntai di antara tungkai kakiku. "Usaha keluarga, bahkan sebelum aku lahir. Dulu gampang banget bisa dapat duit. Orang tuaku bahkan bisa mengirim aku dan adikku sekolah di Singapura. Sekarang mah boro-boro!" Scotch di gelasku habis dengan sekali tengguk. "Kebanyakan pemain. Semua meniru, semua buka percetakan. Mesin main import dari Cina biar murah. Kalah kualitas dari kita, mesin kita dari Jerman. Tapi mana ada yang pusing, yang penting murah-murah-MURAH!! Yang pesan juga bayarnya nundaaaa melulu. Heh! Emangnya orang nggak perlu makan??"
"Sabar..."
"Nah, tadi satu lagi perusahaan langganan minta putus kontrak dengan kita. Katanya harga ketinggian. Kampret!!" Tanganku menghantam meja. "Sekarang makin susah pokoknya."
Kawanku menunduk, menyeruput gelasnya dengan khidmat. Kurasa ia mulai kehilangan interest, bahkan mungkin sebentar lagi akan pergi pindah tempat duduk.
"Aku harap aku tidak membuatmu bosan--"
"Justru aku sedang berpikir..." Ia menggeser duduknya, menghadap ke arahku. "Aku ingin membantumu."
"Oh?" Nada suaraku naik. "Kau mau order printing?"
Tak kuduga, ia malah tertawa. Kali ini ia menunduk menyembunyikan gigi putihnya yang mengkilap. Dalam hati, aku membatin. Betapa laki-laki di depanku sangat sempurna. Tampan, tegap, ganteng, macho… Laki-laki ideal yang sudah jelas digandrungi wanita. Aku mendengus tanpa sadar ketika pandanganku menunduk, menelusuri perutku yang kian berliku. Usiaku empat puluh dua, dan sudah nampak seperti bapak-bapak. Bahkan istriku sendiri menyuruhku diet.
Televisi di depan bar menampilkan iklan minuman kesehatan : laki-laki berperut rata bertelanjang dada, dengan sederet wanita mengejarnya. Aku mendengus.
"Kau tahu, apa yang kau lihat di televisi itu bisa menjadi kenyataan buatmu."
Spontan aku menunduk, menatap diriku sendiri. Bulatan sempurna tercetak di balik kemeja biru yang kupakai. Dalam hati, aku mengucapkan kata 'mustahil' berulang-ulang.
"Jangan bilang mustahil. Kalau kau mau, aku bisa membantumu mewujudkan itu." Ia menepuk pundakku, seolah bisa menerka isi hatiku. "Hanya tinggal bilang 'YA' dan menuruti kata-kataku, maka semua itu akan kau dapat. Mulai dari karir mapan, uang banyak, dan perempuan."
Aku mendengus. "Memangnya kau tukang sulap?"
"Aku seorang konsultan bisnis." Ia memamerkan giginya yang putih dan rata. "Dan aku nggak pernah pusing soal uang, karena uang sudah otomatis datang buatku." Ucapannya terhenti, seolah tahu ketidak percayaanku. "Hanya penasaran, sobat. Berapa sih harga printing sekarang?"
"Kalau dihitung selembar ya kecil. Kalau dihitung banyak lembar ya, lumayan."
"Selembar kau untung seratus? Dua ratus? Atau seribu?" Ia mengangkat gelasnya lagi dan menempelkannya ke bibir. "Lalu berapa yang mereka bayar buat cetak kop surat kantor?"
"Hitungnya jangan eceran, dong. Kalau satu-satu ya kecil."
"Pertanyaanku simpel. Dari profit beberapa peser itu, berapa banyak effort untuk bisa mengumpulkan uang yang cukup?" Kulihat matanya berkilat. "Atau gini, deh. Berapa lembar yang harus kau dapat untuk membayar segelas Scotch?"
Aku terhenyak. Orang ini mau bilang aku miskin??
"Hidupmu bergantung dari mengumpulkan receh demi receh. Dan jika tidak kau ubah, mentalitasmu akan tetap mental orang kere." Scotch di botol sudah habis, dan ia memberi tanda agar bartender membuka botol kedua. "Orang kere yang cuma menikmati bir murah di bar, sambil ngirit di uang rokok dan kadang-kadang skip makan siang supaya bisa cukup budget untuk mengajak anaknya keluar makan enak di McDonald." Ia terhenti, menatapku dengan dramatis. "Lalu terus melakukan hal yang sama, dan menghabiskan hari mengeluh meratapi nasib--"
"Bangsat!!"
"Yakin bakalan berubah kalau begini?"
Aku nyaris menghujamkan tinju ke rahangnya, ketika kalimat itu meluncur.
"Aku dulu bisnis sepertimu, kawan. Capek. Pusing cari order, mampus hadapin karyawan. Belum kalau ada yang nyolong atau kena tipu." Ia menyahut dengan senyum di bibirnya. "Lalu ada yang mengajakku bergabung dengan tempat sekarang. Jauh lebih nyaman. Bayangkan : kerja dalam tim, tidak pakai modal, tidak terikat jam kerja. Kau bisa melakukan tugasmu kapan pun, di mana pun. Hasilnya cukup besar. Dan semua klien yang kau dapat, akan seumur hidup bergantung padamu. Dijamin!"
"Aku tidak terlalu jago kalau soal administratif--"
"Siapa bilang soal administratif??" Kini orang itu menatapku penuh. "Kau dengar dulu, sobat. Aku mau membantumu. Apa mau seumur hidupmu susah terus, mengumpulkan perak demi perak. Kubilang ya,.... Kalau mau kaya, harus putar otak, sobat. Jangan kau yang capek. Cari cara supaya bisa rekrut orang, dan orang itu yang kerja buatmu."
Semua teori mengenai manajemen dan delegasi sudah sering kudengar. Aku memilih tidak menjawab, dan meneruskan minum.
"Aku tidak menyarankanmu mencari karyawan. Aku mau kamu mencari rekruitment! Semacam pengikut atau downline. Ya, selama kau jelaskan esensi dasar usahamu, mereka nggak akan lari." Laki-laki itu meneruskan sambil menguar senyum. "Pengikutku sudah ratusan. Dan mereka suka rela menjalankan job dariku. Yah, tentu pendapatannya berlimpah. Dijamin! Kalau nggak ada uangnya, mereka pasti kabur." Ia tertawa, menggulung lengan bajunya. Jam tangan Rolex bersinar diterpa cahaya lampu. "Pendapatanku sebulan lebih dari dua ratus juta, sobat. Itu belum termasuk bonus."
Pasti multi level marketing, pikiranku terbersit. Namun tidak ada salahnya. Sudah kepepet begini.
"Yang perlu kau lakukan, hanya ikut denganku." Kali ini suaranya menajam. "Ikutlah denganku, maka hidupmu akan nyaman. Uang akan mengalir seperti air bah, dan hidup akan bisa kau nikmati secara utuh."
Aku mengangguk. Tawaran yang bagus, dan patut dicoba. Kulihat ia mengulurkan tangan, mengajak untuk salaman. Tanpa ragu, kusambut jabatannya.
"Tinggalkan keluargamu. Tinggalkan pekerjaanmu. Aku akan membuatmu kaya raya, asal kau tumpulkan hatimu sedikit." Kata-kata itu menghujam dingin. "Bapaku di dunia bawah sudah menantimu. Kau akan makmur menjadi pengikutnya."
Dia mempererat jabatannya, seraya menepuk punggungku.
"Selamat datang ke hidup tanpa batas!"
Malam itu kuhabiskan di sebuah bar di bilangan CBD. Kuputuskan untuk tidak pulang ke rumah. Biarlah istri dan anakku bertanya-tanya. Yang penting nanti, aku bisa kembali pulang dengan membawa uang berlimpah. Itu lebih baik daripada pulang hari ini dalam kondisi mabuk dan miskin.
Lewat midnight aku melangkah keluar bar, berangkulan dengan laki-laki yang baru kukenal sambil tertawa-tawa di jalan. Hidup lama dengan senang hati kutinggalkan. Gambaran diriku di masa depan melayang di benakku: Laki-laki bertubuh ideal dan perlente, mengenakan baju bermerk, arloji mahal dan kalung emas di leher. Sakuku akan tebal, rekeningku berlimpah.
Tugas baruku di bidang rekruitmen. Membawa orang-orang yang goyah sepertiku dulu, menyongsong masa depan yang lebih menyenangkan, seperti nasib baikku hari ini.
Masa depan yang lebih menjanjikan secara finansial, di fatamorgana semu yang kudapat setelah menjual jiwaku pada Mamon.
***
Hai! Terima kasih sudah sempatkan membaca.
Enjoy dengan kisah di atas? Silahkan cek kisah berikutnya, ya! :)
http://mikaylafernanda.blogspot.com/2018/08/maaf-aku-terlambat.html?m=1

BalasHapusHm hal kaya gini memang sangat dekat dengan kehidupan kita. Pilihannya tinggal mau kerja keras atau kerja enak tapi gak jrlas masternya siapa. Thanks for reminding for value our process, our struggle, our goal of life...
Sangat-sangat setuju :) Terima kasih sudah menyempatkan baca, ya....
Hapus