Kisah 1 Mei 2019


Jakarta, 1 Mei 2019.

Pukul sepuluh malam dan kesadaranku masih penuh. Kemarin naskah novelku ditolak lagi oleh penerbit mayor. Penolakan yang ke sembilan kali. Delapan belas tahun aku mengejar mimpi menjadi penulis novel, dan jujur… kali ini aku lelah.

Lelah dengan pergumulan emosi yang secara tidak langsung terkena imbas alur cerita yang kutulis. Lelah karena kurang tidur, mengorbankan dua jam tiap malam setelah pulang kantor dan beres-beres rumah untuk menulis. Lelah berkorban uang untuk membeli novel di toko buku demi memperbaharui ilmu penulisan yang tak kunjung khatam.

Dan aku lelah kerap membuang waktu untuk menyepi, mengasingkan diri dari sekelilingku demi bisa fokus ke dunia khayal. Menenggelamkan diri ke ranah fiksi, ke dunia maya ciptaanku sendiri demi naskah dua ratus halaman yang akhirnya terbuang percuma.

Pengorbanan yang tanpa hasil. Ah, Gusti! Takdir belum berpihak padaku, atau mungkin… Apakah memang bukan jalanku?

Gelas di tangan kananku sudah kosong. Aku menahan diri dengan keras untuk tidak mengambil botol baru dari kulkas. Besok pukul delapan aku sudah harus ke kantor lagi, dengan laptop yang sama, namun mengerjakan angka-angka yang membosankan. Digit-digit uang yang sebenarnya bukan punyaku, dengan algoritma perkalian prediksi investasi klien bulan ini.

Penulis memang breeding yang aneh, kata suamiku. Ngapain menghabiskan waktu mengkhayal nggak jelas, berhari-hari, lalu nggak ada hasilnya pula! Profesi aneh, dijalani bertahun-tahun, nggak juga kapok! Coba waktu menulismu dikonversi ke jam kerja di kantor, berapa Rupiah argo yang terbuang?

Aku menghela napas dan tertawa. Hari ini, tanggal 1 Mei 2019 adalah hari bersejarah. Hari ini aku menggantungkan identitasku sebagai penulis novel jadi-jadian. Realita di depan mata menarikku paksa. Digit-digit angka memaksaku tersadar dari mimpi.

Botol di tanganku terhenti dua senti dari bibir gelas.

Stop, Shinta! ujarku dalam hati. Besok kau ngantor! Jangan sampai lepas kontrol. Alkohol tidak bersahabat dengan angka.

Nasib kuterima dengan pasrah seraya tanganku menekan tombol DELETE. Folder dan seluruh file Word di dalamnya melayang masuk RECYCLE BIN.

Ya... Aku seorang akuntan.

****

Untuk lanjutan kisahnya silahkan klik : KISAH 2 MEI




Komentar