Kisah 2 Mei 2019


Jakarta, 2 Mei 2019

"Kamu sudah memutuskan hal yang tepat," kata suamiku ketika aku pamit kerja tadi pagi. "Penulis itu pekerjaan sia-sia. Lama-lama kamu bisa sakit jiwa kalau kebanyakan melamun."

Aku cuma diam saja. Mungkin dia benar. Seyogyanya waktuku tidak dibuang untuk hal-hal yang tidak penting. Suamiku seorang psikolog, yang memungut bayaran cukup tinggi setiap satu jam sesi konsultasi. Menit demi menit harus dilalui secara efisien. Ada hitungan uang yang mengalir di sana, seperti argo sebuah taksi.

Satu lagi. Mas Hardi menganggap melamun adalah tanda awal orang stress atau penyakit kejiwaan lain.

"Jangan sampai kamu jadi pasienku, sayang." Ia terkekeh seolah-olah itu lucu. "Bahaya, nanti sesi terapi jadi ajang pacaran, saking kita jarang punya waktu berdua."

Memang sejak anak kami lahir, kami jarang jalan berdua. Suamiku orang praktis, yang tidak pernah setuju dengan mengambil ART atau babysitter. Merepotkan, katanya. Karena itu sejak cutiku habis, kami memasukkan anak kami ke penitipan anak dekat kantorku. Alasannya supaya makan siang, aku bisa menengoknya.

Namun kenyataan yang terjadi beda. Setahun ini, aku terbirit-birit berangkat empat puluh menit lebih pagi, supaya bisa mengantar dia ke daycare, dan tidak terlambat ke kantor. Suamiku baru praktek jam sembilan, sehingga ketika aku berangkat, ia sering masih membaca koran di meja makan, dengan memakai piama.

"Daripada kamu habiskan waktumu untuk menulis, lebih baik kamu tidur."  Suara suamiku kembali terngiang-ngiang. "Istirahat lebih penting dari novel yang nggak akan pernah terbit."

Aku sudah tobat sekarang, Mas, ujarku dalam hati sambil berusaha fokus ke layar monitor. kedua tanganku dalam posisi sempurna di atas keyboard. Kantor ini sunyi, layaknya kantor resmi akuntan publik. Hanya derik tuts yang bersuara. Sekali-kali dering telpon dan suara orang berbisik mendesiskan hitungan dari layar mereka. Kami akuntan identik dengan angka. Itu yang ada di darah kami, dan terpatri di pandangan kami.

Angka demi angka bertebaran di layar monitorku, melayang-layang di pelupuk mataku. Dua koma tujuh tiga persen... Tiga puluh dua persen... Dibagi total bulan....

Aku mengerjap. Berusaha untuk tetap fokus.

Dua puluh lima dibagi tujuh koma satu...

Tujuh koma sembilan dua...

Tanganku mengepal, memukul meja.

Kampret!!

Angka-angka itu mendadak tidak menarik. Aku mengedip. Sekali, dua kali. Kemudian bangkit dari kursi dengan gelas di tangan. Aku butuh kopi.

Dispenser mengepulkan uap. Abu-abu... Putih... Membubung tinggi. Di batinku menggaungkan kata-kata tak bermakna, imajinasi penulis yang semula pensiun mulai merangsek berontak. Uap berubah menjadi asap di kepalaku. Asap besar dan tebal. Menggelap, membumbung naik ke awan yang menghitam.

Api menyambar. Merah menyala. Orang berteriak-teriak. Sirene menggaung.

"Kak Shinta! Ya, ampun!!"

Dewi, teman sebelahku menegur. Aku kembali ke realita, masih menekan tombol dispenser. Air mengalir melewati bibir cangkir, membasahi ubin.

"Astaga..." Aku menunduk malu. Seisi kantor mendadak berkumpul di pantry, akibat suara cempreng Dewi.

"Shinta, kamu kelihatan lelah." Pak Adri, atasanku buka suara. "Apa kamu sakit?"

Aku masih terdiam. Sedetik, dua detik...

"Agak kurang tidur saja, Pak. Anak saya sakit." Kata-kata itu meluncur dari mulutku spontan. "Umm... Demam sejak kemarin."

"Sudah dibawa ke dokter?"

Sekali bohong, terpaksa terus bohong. Aku menggeleng. Entah kenapa, aktingku kali ini sungguh meyakinkan. Sebutir airmata muncul di pipi. Mengalir perlahan tanpa bisa dihentikan. Sampai aku harus menangkupkan tangan ke wajah dengan malu.

Gila! Ngapain pakai nangis segala!!

Managerku kini memasang wajah prihatin. "Lebih baik kamu pulang." Suaranya melunak. "Urus dulu anakmu, sampai sembuh. Baru kembali ke kantor."

Aku nyaris tersedak. Mau mengaku, tapi tidak berani. Ucapan Pak Adri tadi terdengar tulus sekali. Pernah ada cerita kalau salah satu anak beliau  meninggal karena demam berdarah, dan terlambat dibawa ke rumah sakit.

Kembali, aku menundukkan kepala. Berusaha menjawab sepelan mungkin.

"Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak."

&&&

Aku keluar dari kantor dengan wajah ceria dan berseri-seri. Langkahku ringan bagai kapas. Pukul sebelas tiga puluh dan aku sudah bebas!

Mobil meluncur di bilangan Sudirman, kemudian berbelok ke sebuah mall. Niat hati masuk ke sebuah coffeeshop, memesan kopi dan membuka laptop untuk menyelesaikan naskah. Kemarin sudah sampai bab tiga. Harus dibuat adegan seru. Mungkin setting mall bisa memberikan inspirasi.

Tapi.... Tunggu!

Kakiku melambat seraya mulutku mengumpat.

Kemarin kan sudah kuhapus semuanya??

Setelah menimbang-nimbang, aku batal masuk ke Starbucks. Dengan mantap aku melangkah naik eskalator.  Kali ini, aku mau memanjakan diri dengan ke salon!

&&&

Sebelumnya : Kisah  1 Mei

Komentar